Anggota DPRD Kota Tangerang Dorong Evaluasi Sistem Pendidikan Pasca Tragedi Dua Siswa SMP Meninggal Dunia

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID- Anggota DPRD Kota Tangerang Syamsuri mendorong evaluasi sistem pendidikan, khususnya muatan lokal, serta perluasan ruang publik bagi remaja pascatragedi meninggalnya dua siswa SMP Negeri 34 Kota Tangerang yang dikejar siswa SMK Yadika 4 dengan senjata tajam hingga terjadi kecelakaan.

Syamsuri menyampaikan belasungkawa atas peristiwa tersebut dan menyatakan keprihatinannya atas masih maraknya aksi tawuran di wilayah itu.

Bacaan Lainnya

“Pertama, tentu berdukacita. Yang kedua juga turut prihatin dengan masih adanya marak tawuran, dan hari ini kita pemerintah berdukacita karena memakan korban,” ujar Syamsuri di Tangerang, Rabu 14 Oktober 2026.

Meski demikian, ia menegaskan tidak menyetujui segala bentuk tawuran dan menilai peristiwa ini harus menjadi bahan evaluasi pemerintah. Menurut dia, sistem pendidikan perlu dibenahi secara sungguh-sungguh, terutama dari sisi muatan lokal.

“Kalau kemarin penekanannya pada akhlak, moralitas, dan agama, ini harus menjadi bagian yang perlu kita revisi ulang,” katanya.

Syamsuri mengingatkan bahwa dampak tawuran tidak hanya dirasakan para pelajar yang terlibat. Warga yang kebetulan berada di sekitar lokasi juga berpotensi menjadi korban, misalnya ketika berusaha menghindar karena ketakutan, baik dengan memacu kendaraan maupun berlari.

“Bukan hanya mereka yang ikut dalam kelompok tawuran, bisa jadi orang lain yang berada di wilayah itu juga terkena dampaknya karena saking takutnya lalu memacu kendaraan atau berlari, dan itu bisa berakibat sama,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Komisi II DPRD Kota Tangerang berencana kembali menggelar audiensi dengan dinas terkait untuk mengevaluasi persoalan tersebut. Komisi II juga akan mendorong penguatan anggaran pembinaan moralitas dan kebangsaan di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) yang sebelumnya dibahas dalam rapat dengar pendapat.

Dalam kesempatan itu, Syamsuri turut menyoroti pengaruh media sosial dan generasi Z yang dinilainya banyak menginspirasi remaja dengan budaya kekerasan. Kondisi itu, kata dia, diperparah minimnya ruang terbuka yang dapat menyalurkan energi anak-anak.

Ia mengenang masa kecil ketika anak-anak aktif bermain layangan, gasing, dan sepak bola sehingga energi mereka tersalurkan secara positif.

“Zaman kita dulu bermain layangan, gasing, main bola, selesai itu energinya habis, capai, tidur. Sekarang peluang terjadi tawuran lebih banyak, ditambah informasi dari media yang mereka tonton untuk menumbuhkan jati diri atau kegagahan,” katanya.

Untuk itu, Syamsuri mendorong perluasan ruang publik bagi remaja, evaluasi kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan memperkuat nilai-nilai nasihat dan agama, serta penambahan waktu ekstra di sekolah jika diperlukan. Ia juga menekankan pentingnya pengawasan orang tua.

“Memperluas ruang publik, kedua mengevaluasi KBM dari sisi masukan nilai-nilai nasihat dan agama, kalau perlu ada penambahan waktu ekstra di sekolah, serta pengawasan orang tua,” ujarnya.

 

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.