KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Perjuangan mencari pekerjaan dijalani lima laki-laki penyandang disabilitas dalam Gebyar Rekrutmen Kerja di Tangerang Convention Center (TCC), Cimone, Kota Tangerang, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Mereka datang untuk melamar pekerjaan di Alfamart dan kini masih menjalani tahap wawancara.
Salah satunya Sagara (30), warga Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Ini menjadi pengalaman pertamanya melamar kerja setelah bertahun-tahun menghabiskan waktu untuk merawat ibunya yang sakit.
Namun, sang ibu meninggal dunia pada Juli 2026 lalu. Setelah kehilangan orang yang selama ini dirawatnya, Sagara kini mencoba bangkit dan mulai mencari pekerjaan demi melanjutkan hidup.
Tak tanggung-tanggung, Sagara mengendarai sepeda motor dari Tigaraksa menuju TCC Cimone bersama empat temannya. Perjalanan itu mereka tempuh untuk mengikuti proses rekrutmen dan mendapatkan kesempatan bekerja di Alfamart.
“Ini pertama kalinya saya melamar kerja setelah bertahun-tahun merawat ibu yang sakit. Sekarang saya ingin mencoba mencari pekerjaan dan membangun masa depan,” ujar Sagara, saat dikonfirmasi Lensa Banten pada hari kedua giat Gebyar Rekruitmen.

Ia berharap bisa melewati tahap wawancara dan diterima bekerja. Baginya, kesempatan tersebut menjadi langkah awal untuk menata kembali kehidupannya.
“Kalau lulus dan diterima, saya akan berusaha dan berjuang demi masa depan. Saya ingin bekerja dengan sungguh-sungguh dan bisa hidup lebih mandiri,” katanya.
Bukan hanya Sagara, empat temannya juga datang dengan harapan yang sama. Mereka adalah Arpan (28), warga Kecamatan Cipondoh, penyandang disabilitas fisik pada bagian kaki; Sadam (22), warga Kecamatan Ciledug; Ferdi (21), warga Kecamatan Batuceper; serta Sahrul (21), warga Kecamatan Kelapa Dua, yang bersama Sagara merupakan penyandang disabilitas sensorik.
Kelima peserta tersebut masih menjalani wawancara dalam proses rekrutmen Alfamart. Mereka berharap bisa lolos seleksi dan mendapatkan kesempatan untuk bekerja sesuai kemampuan masing-masing.
Bagi mereka, pekerjaan bukan sekadar soal mendapatkan penghasilan, tetapi juga kesempatan untuk hidup mandiri dan membangun masa depan.
Mereka ingin membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga punya semangat dan kemampuan untuk bekerja, asalkan diberi kesempatan yang sama.








