Mighfar Suganda Padukan Mini Album ‘Semesta Nirvana’ dengan Novel Perdana

foto dok. mighfar suganda
foto dok. mighfar suganda

JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Mighfar Suganda menghadirkan pendekatan kreatif yang berbeda melalui perilisan mini album “Semesta Nirvana” yang berjalan beriringan dengan novel perdana berjudul “Semesta”. Novel tersebut diterbitkan oleh Penerbit Aksara dan menjadi bagian penting dari proyek yang menghubungkan musik dengan karya sastra.

Melalui proyek ini, Mighfar tidak hanya menyampaikan cerita lewat lirik dan melodi, tetapi juga memperluasnya melalui narasi tertulis. Mini album dan novel tersebut dirancang untuk saling melengkapi, menghadirkan gambaran tentang perjalanan manusia dari kelahiran hingga kematian.

Bacaan Lainnya

Mini album “Semesta Nirvana” memuat dua lagu dengan karakter cerita yang berbeda, yaitu “Nirvana dan “Semesta”. Jika *Nirvana* menghadirkan nuansa cinta dan impian tertinggi, “Semesta” membawa pendengar berhadapan dengan kenyataan, kehilangan, dan upaya menerima kehidupan.

Kedua lagu tersebut dapat dinikmati secara berurutan untuk membentuk pengalaman yang lebih utuh. Perbedaan suasana di antara keduanya menjadi bagian dari narasi yang ingin dibangun Mighfar dalam proyek ini.

Novel “Semesta” kemudian memperluas cerita melalui bab-bab yang mengurai rasa sakit di balik setiap lagu. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada pembaca untuk memahami lapisan emosional yang mungkin tidak seluruhnya tersampaikan melalui musik.

Dari sisi visual, video musik “Semesta” turut memperkuat cerita dengan pendekatan teatrikal. Latar alam terbuka dan adegan di ujung dermaga menjadi bagian dari penggambaran hubungan dua tokoh yang harus menghadapi perbedaan keyakinan.

Kisah cinta mereka berakhir dengan perpisahan. Simbol dua tangan berbeda yang saling berhadapan, kemudian menjauh, digunakan untuk menggambarkan hubungan yang tidak dapat berlanjut.

Video musik tersebut juga menghadirkan gambaran tentang pergantian generasi. Salah satu karakter meninggalkan tempat, sementara karakter lainnya tetap berada di titik yang sama. Visual itu menyiratkan bahwa meskipun waktu terus berjalan, persoalan hati dapat kembali dialami oleh generasi berikutnya.

Sutradara video musik yang memiliki latar belakang sebagai mantan ketua teater menyisipkan simbol-simbol dalam sejumlah adegan untuk memperkuat makna cerita.

Bagi Mighfar, musik, novel, dan video musik merupakan bagian dari satu perjalanan kreatif. Ketiganya merangkum fase emosional manusia, mulai dari penolakan terhadap kenyataan, proses menerima keadaan, hingga upaya memulihkan diri dan bangkit.

Melalui perpaduan tiga medium tersebut, Mighfar menawarkan pengalaman menikmati cerita yang tidak berhenti pada sebuah lagu, tetapi berlanjut melalui bacaan dan visual. (san/*) #foto dok. mighfar suganda

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.