Asap Karhutla Sudah Sampai Jakarta dan Banten, Akankah Bertahan? Ini Faktor Penentunya

Pengendara motor melintas di Jembatan Kahayan yang diselimuti asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (11/10/2026). Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Kota Palangka Raya tersebut telah terjadi sekitar akhir Juli 2026 hingga sekarang dan berdasarkan pantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPUnet) kualitas udara di Palangka Raya pada Minggu (11/10) pukul 18.00 WIB masuk dalam kategori berbahaya dengan indeks standar pencemaran udara mencapai mencapai 414. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/

JAKARTA, LENSABANTEN. CO. ID — Langit Jakarta dan Banten kini ikut disinggahi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pertanyaannya, apakah asap itu akan bertahan atau sekadar lewat?
BMKG mencatat sebaran asap baru kali ini masuk ke Jakarta.

Citra satelit Kamis (15/10/2026) sore belum menunjukkan asap di ibu kota. Asap dari Kalimantan itu mulai menyebar ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat pada Jumat (16/10/2026).

Bacaan Lainnya

Masih di Lapisan Atas

Asap ini belum tentu terhirup warga. Satelit Himawari-9 memantau asap tersebut, tetapi BMKG belum melihat tanda bahwa asap mencapai permukaan tanah. BMKG mengimbau pemantauan kualitas udara permukaan untuk mengetahui dampaknya bagi masyarakat.

Di sisi lain, Pemprov Jakarta belum menemukan indikasi kuat asap karhutla telah mencapai udara permukaan, berdasarkan data PM 2,5 stasiun pemantau pada 1–16 Oktober 2026. Gubernur Pramono Anung mengakui kondisi udara dalam dua-tiga hari terakhir memburuk, tetapi memilih tidak berspekulasi soal penyebabnya.

Empat Faktor Penentu

1. Arah dan kecepatan angin. Menurut BMKG, pergerakan asap dipengaruhi arah serta kecepatan angin di berbagai lapisan udara.

Perbedaan arah angin antarlapisan memungkinkan asap terbawa dari Kalimantan ke Jawa. Jika angin melemah, asap bisa turun ke permukaan, meski diperkirakan masih tipis.

2. Luas dan intensitas karhutla di sumbernya. BMKG menyebut sebaran asap ke Jakarta berpotensi makin parah jika karhutla makin meluas. Per 14 Oktober 2026, BMKG mencatat 1.297 titik panas di Indonesia.

3. Hujan dan stabilitas atmosfer. Pakar BMKG Daryono menyebut dampaknya bergantung pada besarnya emisi, arah dan kecepatan angin, curah hujan, serta stabilitas atmosfer. Partikel halus PM2.5 dapat terangkat turbulensi dan konveksi hingga ratusan atau ribuan meter.

4. Kondisi lahan yang kering. BMKG mengaitkan tingginya potensi karhutla dengan lahan yang mengering di daerah yang lama tanpa hujan.

Tahun ini tergolong berat: BMKG mencatat 5.019 titik panas hingga Juli 2026, lebih cepat dari rekor El Nino 2015. Dalam pemberitaan lain, BMKG juga disebut memprakirakan El Nino bertahan hingga awal kuartal pertama 2027.

Jadi, Bertahan atau Tidak?

BMKG sendiri belum bisa memastikan. Belum dapat dipastikan kapan dan sejauh mana asap di atmosfer akan memengaruhi kualitas udara dekat permukaan Jakarta.

Selama sumber api di Kalimantan dan Sumatra belum padam serta hujan belum merata, asap berpotensi terus terbawa angin. Sebaliknya, jika api mereda atau hujan turun, ancamannya bisa menyusut.

Yang Bisa Dilakukan Warga

BMKG mengimbau warga memakai masker dan mengurangi aktivitas luar ruang jika kualitas udara buruk. Pantau terus indeks kualitas udara dan informasi resmi BMKG.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.