Udara Jakarta Memburuk: Asap Kendaraan atau Kiriman Karhutla? Ini Cara Membedakannya

JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID –– Kualitas udara Ibu Kota kembali menurun. Pada 2-4 Oktober 2026, Jakarta berada di enam besar kota paling berpolusi di dunia, dengan AQI 156 pada 2 Oktober dan 119 pada 4 Oktober.

Pada saat yang sama, Palembang mencatat AQI 485 (kategori berbahaya) dan Pontianak 412.

Bacaan Lainnya

Kabut asap bahkan menyeberang ke negara tetangga: Singapura sempat menjadi kota dengan udara terkotor di dunia pada 7 Oktober 2026 akibat kebakaran tak terkendali di Indonesia.

Pertanyaannya, seberapa besar kontribusi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap udara Jakarta, dan seberapa besar emisi lokal?

Dua sumber, dua karakter
Polusi lokal Jakarta bersifat kronis. Penyebabnya antara lain emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan pembangkit listrik tenaga batu bara di sekitar wilayah metropolitan.

Data KLHK yang dilaporkan pada 2023 menyebut 44 persen polusi udara Jakarta berasal dari kendaraan bermotor. Polanya juga musiman: IQAir mencatat puncak PM2.5 Jakarta pada Juni-Agustus saat kemarau, lalu menurun pada September-April.

Karhutla datang dari luar kota.

BMKG mencatat 5.019 titik panas hingga akhir Juli 2026, dengan peningkatan lebih cepat dibandingkan El Nino 2015, 2019, dan 2023. BMKG juga menyebut sebaran asap terbawa pola angin sehingga meluas ke wilayah sekitar.

Petunjuk untuk membedakan
Alat ukur rumahan tidak bisa memisahkan kedua sumber ini secara pasti. Berikut indikasi yang lazim dipakai, di luar data sumber di atas:

Cek titik panas dan arah angin. Jika BMKG mendeteksi hotspot dan sebaran asap di Sumatera atau Kalimantan, serta angin bergerak ke arah Jawa, kontribusi asap kiriman patut dicurigai.

Lihat pola waktu. Polusi kendaraan biasanya naik pada jam sibuk dan turun saat lalu lintas lengang. Asap kiriman cenderung bertahan lebih lama dan tidak ikut turun saat jalan sepi.

Perhatikan bau dan warna langit. Bau terbakar dan langit kekuningan atau kecokelatan lebih mengarah ke asap kebakaran. Kabut abu-abu pekat di sekitar jalan raya lebih mengarah ke emisi lokal.
Bandingkan dengan kota lain. Jika kota di sekitar titik api sangat parah dan Jakarta ikut naik bersamaan, asap kiriman kemungkinan ikut berperan.

Dalam praktiknya, kedua sumber ini sering bercampur. Kepastian proporsinya memerlukan analisis komposisi partikel oleh lembaga berwenang.

Imbauan

IQAir dan BMKG menyarankan warga memantau aplikasi kualitas udara secara real-time dan tetap di dalam ruangan saat udara buruk.

Warga Jakarta dapat mengecek kualitas udara lewat aplikasi JAKISPU. Dari sisi kebijakan, Pemprov DKI bersama BMKG sedang menyiapkan sistem peringatan dini kualitas udara.

BMKG memperkirakan risiko karhutla berangsur turun pada Oktober-November 2026.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.