TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Pemilik sekaligus Managing Director Pranatacara Organizer, Gandy Priapratama, mengingatkan calon pengantin agar lebih cermat memilih wedding organizer (WO) menyusul banyaknya kasus oknum WO yang mengecewakan klien, mulai dari layanan yang tidak sesuai janji hingga uang pembayaran yang dibawa kabur.
“Sekarang banyak sekali WO, dalam tanda kutip ‘oknum’, yang akhirnya mengecewakan. Bukan hanya tertipu soal pembayaran, banyak juga pengantin yang tidak mendapatkan apa yang dijanjikan. Itu bisa dibilang wanprestasi,” kata Gandy ditemui di sela acara konferensi pers di Hotel Tentrem Jakarta, Selasa 20 Oktober 2026.
Menurut dia, banyak pengantin yang akhirnya kecewa karena layanan yang diterima tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Bahkan, kata dia, ada kasus uang pembayaran dari klien dibawa kabur oleh pihak WO.
Karena itu, Gandy menyarankan calon pengantin memeriksa jam terbang WO yang akan dipilih dan tidak hanya terpikat oleh tampilan di media sosial. Calon pengantin juga dapat melakukan pengecekan silang (cross-check) kepada vendor lain yang terlibat, termasuk pihak tempat penyelenggaraan (venue), untuk mengetahui reputasi WO tersebut.
“Vendor yang dipilih kan bukan cuma WO. Bisa di-cross-check juga ke venue-nya, WO ini oke atau tidak. Itu yang pertama,” ujarnya.
Hal kedua yang dinilainya paling penting adalah tidak tergiur harga murah. Gandy mengatakan harga yang terlalu kompetitif patut dipertanyakan, terutama jika tidak sebanding dengan layanan yang dijanjikan.
“Ada harga ada rupa. Harga segitu bisa menampilkan dan memberikan sebanyak itu, worth it atau tidak? Kalau tidak worth it, itu perlu dicurigai dan dipelajari,” katanya.
Selain itu, calon pengantin dapat memeriksa apakah WO tersebut tergabung dalam asosiasi profesi. Meski demikian, Gandy menegaskan keanggotaan asosiasi bukan jaminan seratus persen.
Ia juga menyarankan calon pengantin memperhatikan pengalaman dan jam terbang WO serta keberadaan kantor yang jelas. Menurut dia, masih banyak WO yang hanya dijalankan perorangan dan bubar setelah menangani dua hingga tiga pernikahan.
Gandy turut mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap promo yang ditawarkan WO. Ia menegaskan tidak semua promo bersifat menipu, tetapi saat ini promosi sangat mudah dilakukan melalui media sosial.
“Berbeda dengan zaman dulu yang harus memasang iklan di majalah, tidak gampang. Sekarang dengan media sosial, pintar-pintar mengelola pengikut yang banyak. Jadi jangan terlalu tergiur dengan promo yang ditampilkan,” ujarnya.
Ia mengimbau calon pengantin segera melakukan pengecekan ulang dan bertanya kepada vendor lain mengenai kekompakan serta rekam jejak WO yang akan dipilih.








