Dua Tahun Prabowo-Gibran, Mahasiswa Turun ke Jalan: Karhutla hingga Biaya Hidup Disorot

JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID– Dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka diwarnai aksi demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil di sejumlah wilayah, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Di Jakarta, massa menyuarakan kritik terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kenaikan biaya hidup, hingga kondisi demokrasi.

Ratusan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi bersama koalisi masyarakat sipil menggelar demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Mereka membawa berbagai tuntutan sebagai bentuk evaluasi terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran selama dua tahun terakhir.

Bacaan Lainnya

Dalam aksinya, massa meneriakkan yel-yel yang menyebut pemerintahan Prabowo-Gibran telah gagal. Mereka juga membentangkan spanduk berisi tuntutan terkait persoalan lingkungan, ekonomi, hingga pelayanan publik.

Ada lima tuntutan utama yang disampaikan para demonstran kepada pemerintah. Mereka mendesak penetapan karhutla sebagai bencana nasional, perbaikan tata kelola ekonomi, penghormatan terhadap hak asasi manusia dan demokrasi, pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta pembenahan layanan pendidikan dan kesehatan.

Para mahasiswa menilai penanganan karhutla harus menjadi perhatian serius, termasuk penindakan terhadap korporasi yang bertanggung jawab dan pemulihan ekosistem terdampak. Mereka juga mengkritik dugaan penyempitan ruang sipil, kriminalisasi terhadap warga yang menyampaikan pendapat, serta keterlibatan militer dalam urusan sipil.

Salah satu peserta aksi, Nazhira dari BEM Institut Pertanian Bogor (IPB), menyoroti kenaikan harga barang dan biaya hidup yang dirasakannya selama dua tahun terakhir. Ia membandingkan daya beli uang jajan Rp100 ribu saat masih duduk di kelas XI SMA dengan kondisi saat ini.

“Sekarang terasa, untuk apa-apa harga barang naik semua. Sedikit-sedikit tapi lama-lama jadi bukit,” kata Nazhira, saat dikonfirmasi awak media.

Menurutnya, uang Rp100 ribu yang dahulu masih cukup untuk jalan-jalan, menonton bioskop, serta membeli makanan dan minuman, kini tidak lagi mencukupi untuk kebutuhan yang sama. Ia mengatakan uang tersebut sekarang paling hanya cukup untuk ongkos dan menonton bioskop tanpa membeli makanan maupun minuman.

Aksi serupa juga berlangsung di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Selasa siang. Puluhan mahasiswa membawa spanduk bertuliskan “Rapor Merah 2 Tahun Tolak Rezim Fasis Prabowo-Gibran” dan menuntut pemerintah segera menangani persoalan karhutla serta memperbaiki kebijakan ekonomi.

Muamar, salah satu peserta aksi, menyoroti dampak karhutla terhadap masyarakat Kalimantan, terutama gangguan yang dirasakan anak-anak akibat kondisi lingkungan. Ia menilai persoalan tersebut bertentangan dengan cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045.

“Kami hari ini membawa isu ini karhutla. 2045 Indonesia emas. Tapi anak-anak di Kalimantan bernapas susah,” kata Muamar.

Ia juga menyampaikan kritik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan tersebut.

“Kami, atas nama mahasiswa dan masyarakat Kalimantan, menyatakan Prabowo dan Gibran telah gagal menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.

Sekitar pukul 18.00 WIB, massa aksi di kawasan Tugu Tani membentangkan spanduk tuntutan di atas patung sepasang petani yang menjadi salah satu ikon Jakarta Pusat. Dua demonstran memanjat tugu setinggi sekitar 10 meter dengan bantuan peserta aksi lainnya sebelum massa mulai meninggalkan lokasi.

Demonstrasi tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa dan masyarakat sipil untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan yang mereka nilai belum terselesaikan selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Mereka mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjawab tuntutan masyarakat.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.