JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – International Media Support (IMS) dari Denmark dan Suara.com menggelar Local Media Summit (LMS) 2026 selama dua hari (22-23 Oktober) di Manhattan Hotel Jakarta. Kegiatan ini adalah event berkesinambungan tingkat nasional, yang pertama kali diadakan pada 2022, meliputi pelatihan, training, coaching, sampai ke level konferensi.
Suara.com memiliki komunitas-komunitas media lokal dari Aceh sampai Papua, dengan 837 media lokal dan news creator yang tersebar di berbagai daerah.
Selain LMS, turunan berikutnya adalah event untuk media regional, seperti Jawa Tengah Media Summit, Jawa Timur Media Summit, Jawa Barat Media Summit, Banten Media Summit, Sumatra Media Summit, dan beberapa daerah lain.
“Tujuannya untuk menggairahkan teman-teman media lokal agar terus berkembang. Dari berbagai workshop, training, kemudian coaching, juga masuk ke level media-media newsroom,” papar Suwarjono, CEO dan Editor-in-Chief Suara.com dalam Opening Ceremony LMS 2026, di Manhattan Hotel Jakarta, Kamis (22/10/2026).
“Dalam Media Summit ini, kami juga memiliki acara Startup for Media Startup. Jadi bagi teman-teman yang masih setahun dua tahun membidangi media, terutama yang bergerak di news creator, kami membantu mereka dengan berbagai kegiatan,” lanjutnya.
Selain itu masih ada Woman Media Summit, Woman Media Startup, serta Media Innovation Grant.
Disebut terakhir, para pelaku startup media yang membutuhkan bantuan di kegiatan awal bisa memperoleh grant, serta beberapa training yang sudah berjalan di hampir semua daerah.
Dari sambutan pembukaan LMS 2026, dipaparkan bagaimana sebuah konten sampai kepada pembaca.
Tidak sekadar menjadi berita, akan tetapi mampu meraih audiens. Inilah pekerjaan rumah atau PR, yang melibatkan peran teknologi, engagement, sampai bisnis model.
Deputy Head of Mission Norwegian Embassy, Christian Groseth menyatakan bahwa kehadiran teknologi membuka peluang baru dalam hal distribusi informasi. Namun di sisi lain, melahirkan sebuah tantangan apakah sebuah berita sahih.
Pasalnya, disinformasi, misinformasi, dan penyalahgunaan kecerdasan buatan berpotensi membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara informasi yang bisa diandalkan atau manipulatif.
“Kondisi ini membuat informasi yang beredar di masyarakat tidak selalu melalui proses jurnalistik dan penyuntingan profesional, sebagaimana berita yang diproduksi oleh media.
Dalam ruang seperti inilah, peran jurnalisme yang independen dan profesional menjadi lebih penting,” ungkap Christian Groseth, Deputy Head of Mission dari Kedutaan Besar Norwegia.
Tampil sebagai pembicara pada hari pertama LMS 2026 adalah Syahganda Nainggolan, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Ilona Juwita, CEO dan Co-Founder Props, Dahlan Dahi, Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Yos Kusuma, Google News Partner Manager for Indonesia, The Philippines and Bangladesh, Tika Primandari, Tiktok News Partnership Manager Indonesia, Zhulfakar, Journalist Creator B-Universe, ArioFajar, VP Marketing Toffin Indonesia, Fiki Satari, Ketua ICCN, Nurdiana Darus, Director of Communication, Corporate Affairs and Sustainability PT Unilever Indoensia Tbk, Dimasz Joey, Chief Marketing Officer (CMO) Mad Hus Group, Ronny Buol, Penanggung Jawab Pantau Iklim Zona Utara, Alisa Deliana, Project Manager Green Zetizen Kaltim Today.
Dalam pembahasan konferensi sesi pertama LMS 2026, yang bertajuk “Beyond Media Advertising: Membongkar Model Bisnis dan Revenue Alternatif”, Ilona Juwita, Yos Kusuma, dan Dahlan Dahi membahas tantangan, sekaligus peluang bagi media dalam mengembangkan sumber pendapatan alternatif.
Dahlan Dahi menyatakan sejumlah paradoks industri media Indonesia. Meskipun negeri ini memiliki jumlah pengguna internet besar, perusahaan media justru menghadapi tekanan bisnis, sampai tidak sedikit yang mesti berhenti beroperasi.
Kondisi ini bukan terletak pada kurangnya audiens atau kemampuan menghasilkan berita. Akan tetapi kemampuan perusahaan media menangkap nilai ekonomi dari pasar yang tersedia.
Media perlu memahami perubahan perilaku audiens adalah kondisi baru yang harus dihadapi, bukan sekadar tren sementara untuk diabaikan.
Sementara itu, Ilona Juwita menilai, media masih memiliki arti bagi audiens, namun ada tantangan dimana perusahaan media mesti mampu memahami pembacanya dan mengubah pemahaman menjadi peluang monetisasi.
Selain itu, perubahan perilaku pengiklan yang kini semakin selektif dalam menentukan kanal yang akan menerima alokasi anggaran, sehingga media perlu menunjukkan value spesifik dari audiens mereka.
Kemudian Yos Kusuma mengungkapkan bahwa langkah awal bagi media yang ingin mengembangkan model bisnis baru adalah mengidentifikasi peluang sekaligus memahami kondisi internal perusahaan.
Akan tetapi, pemahaman terhadap audiens tetap menjadi fondasi utama.
Media perlu mengetahui siapa pembacanya, kebutuhan mereka, serta platform yang digunakan untuk mengakses informasi. Juga perlu melihat audiens bukan hanya sebagai pengunjung situs, namun kelompok pembaca dengan kebutuhan dan preferensi yang dapat menjadi dasar pengembangan produk.
Dalam sesi konferensi kedua LMS 2026, dibawakan talk show “Reinventing Media as Creative Industry” dengan pembicara Robby Firliandoko, Direktur Media dan Community Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan Ario Fajar, VP Marketing Toffin Indonesia.
Pembahasannya tentang pelaku industri media yang tidak bisa terus bertahan dengan pola lama yang hanya berfokus pada produksi dan distribusi berita.
Robby Firliandoko memaparkan tentang penciptaan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP), yang bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Media disebut perlu membangun kemitraan dengan komunitas lokal, sehingga komunitas menjadi narasumber berita sekaligus mitra untuk menggali, mengembangkan, dan mengolah potensi daerah menjadi produk kreatif.
Sementara itu, perjalanan bisnis Toffin merupakan contoh pengembangan usaha yang tumbuh bersama ekosistem industri makanan dan minuman atau food and beverage (F&B). Usaha ini telah melakukan ekspansi ke Vietnam, dan ada rencana ke Malaysia dan Pakistan.
Hal ini menunjukkan bahwa peluang bisnis mampu tumbuh ketika perusahaan berhasil membaca perkembangan pasar dan membangun ekosistem yang mendukung kebutuhan industri.
Kemudian sesi konferensi ketiga LMS 2026 dengan tajuk “Beyond Brand: Penguatan Ekosistem Media & Strategi Keberlanjutan” menampilkan pembicara Nurdiana Darus, Director of Communication, Corporate Affairs, and Sustainability PT Unilever Indonesia Tbk, dan Dimasz Joey, CMO Mad Haus Group.
Diskusi ini membahas strategi inovasi dan pengembangan model bisnis agar industri media dan hiburan tetap relevan serta berkelanjutan di tengah persaingan.
Lantas sebelum sesi pemungkas, hadir talkshow berjudul “Beyond Audience: Dari Pembaca Menuju Komunitas dan Ekosistem yang Cuan” menampilkan dua pembicara Ronny Buol dan Alisa Deliana.
Ditekankan tentang sederet pelatihan untuk mendorong berbagai inisiatif masyarakat dalam melakukan hal positif untuk masa depan yang berkesadaran lingkungan. Seperti mengolah lahan bekas tambang menjadi lokasi pertanian.
Sementara anak-anak muda terus didorong untuk menghasilkan tayangan dengan teman literasi lingkungan hidup.
Dalam event hari pertama LMS 2026 juga dilakukan awarding untuk Chandra Asri yang berhasil meraih penghargaan kategori Partner Pendukung Media Lokal. Selain itu kepada PNM, serta Diskominfo Media Jatim.







