Sumur Mengering, Warga Panunggangan Utara Tangerang Terpaksa Angkut Air Pakai Galon

TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Warga RW 04, Kelurahan Panunggangan Utara, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, kesulitan mendapatkan air bersih sejak awal Oktober 2026.

Sejumlah sumur mengering, membuat warga terpaksa mengambil air dari masjid dan musala, menumpang mandi, hingga membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bacaan Lainnya

Ketua RW 04, Asriyanto, mengatakan laporan pertama diterimanya dari warga RT 03 yang sumber airnya mulai mengering. Saat itu, sekitar 15–20 rumah dilaporkan terdampak.

“Taruhlah di tanggal 1, tanggal 2 Oktober, saya sudah menerima laporan di RT 3 RW 4, itu sekitar 20 atau 15 rumah yang sudah kering airnya atau sumber airnya atau air Sanyo-nya,” kata Asriyanto, Minggu, 18 Oktober 2026 sore.

Laporan serupa kemudian datang dari RT 08, RT 01, dan RT 07. Sedikitnya empat dari delapan RT di RW 04 telah melaporkan dampak kekeringan.

“Belum. Baru tahun ini nih sampai kayak begini. Sampai parah seperti ini,” ujarnya.

Akibat kondisi tersebut, warga harus mengangkut air menggunakan galon dari tempat ibadah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sebagian warga bahkan memilih menumpang mandi di tempat lain.

“Ya itu ada yang ke Pertamina numpang mandi, ada yang ke musala atau masjid ngambil air,” kata Rudi Haryadi, warga RT 02 RW 04.

Rudi mengaku kegiatan mengangkut air yang dilakukan setiap hari mulai melelahkan. Selain itu, sebagian warga terpaksa membeli air galon karena sumber air di rumah tidak lagi mencukupi.

“Ya, hari-hari begitu aja, cuman kan pegel lama-lama. Ngambilin air dari masjid ke rumahnya make galon,” ujarnya.

Pemerintah melalui BPBD mulai menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak. Asriyanto menyebut sekitar tiga kendaraan tangki telah masuk ke wilayahnya, tetapi pengiriman belum dilakukan secara rutin.

“Untuk saat ini sih baru pengirimannya belum menentu ya, menurut saya belum maksimal kalau menurut saya, karena warga ini kan butuh air itu kan tiap hari,” kata Asriyanto.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia mengusulkan penyediaan tangki penampungan permanen agar warga bisa mengambil air tanpa harus menunggu kedatangan kendaraan tangki.

Ia juga berharap pemerintah mempertimbangkan pembangunan sumur umum sebagai sumber air alternatif.

“Saya pernah ngomong ke yang survei ke BPBD itu bahwa kita minta satu toren atau tangki yang standby di wilayah,” ujarnya.

Asriyanto berharap pemerintah segera memberikan solusi agar kebutuhan air bersih warga dapat terpenuhi secara berkelanjutan. Menurutnya, bantuan darurat perlu disertai kepastian distribusi karena air merupakan kebutuhan utama masyarakat.

“Ya harapan saya sih seperti itu pemerintah menanggapi atau merespon cepat, karena ini bicara air ini kan sangat vital sekali untuk kehidupan masyarakat kita,” pungkasnya.

Sementara itu, Rudi berharap pemerintah segera menemukan jalan keluar agar warga tidak terus kesulitan mendapatkan air bersih.

“Ya harapannya sih biar ada jalan keluar dari pihak pemerintah,” pungkasnya.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.