“Air Sampai Genteng”: Kisah Warga Periuk Damai Bertahan di Pengungsian

Salah satu warga terdampak banjir yang mengungsi di Masjid Jami Al-Jihad, Yayan Hariyani (52). foto : Dony-Lensabanten

TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Banjir yang merendam Perumahan Periuk Damai, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, belum menunjukkan tanda-tanda surut meski telah memasuki hari keempat. Genangan air setinggi 1 meter hingga 3,5 meter membuat aktivitas warga terhenti total.

Banjir besar di kawasan tersebut dipicu hujan deras yang turun terus-menerus sejak beberapa hari terakhir. Kondisi ini menyebabkan ratusan warga terdampak terpaksa meninggalkan rumah dan mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data RW setempat, banjir berdampak pada 286 keluarga atau sekitar 960 jiwa. Dari jumlah tersebut, tercatat 136 warga lanjut usia yang memerlukan perhatian khusus di lokasi pengungsian sementara.

Salah satu warga terdampak banjir yang mengungsi di Masjid Jami Al-Jihad, Yayan Hariyani (52), mengatakan dirinya telah mengungsi sejak Jumat, 23 Januari 2026 pagi. Ia menyebut banjir kali ini membuat warga tidak memiliki pilihan selain menyelamatkan diri.

“Mengungsinya itu dari Jumat pagi, 23 Januari 2026,” ujarnya.

Yayan menjelaskan bahwa banjir di kawasan Periuk Damai tidak terjadi setiap tahun. Menurutnya, banjir besar biasanya datang dalam kurun waktu tertentu.

“Kebetulan kalau di sini itu, Mas, lima tahun sekali,” ujarnya.

Ia menyebut curah hujan tinggi yang terjadi tanpa henti menjadi pemicu utama banjir. Selain itu, kondisi lingkungan sekitar juga turut memperparah dampak banjir di kawasan tersebut.

“Yang keduanya ini kan kita dekat rawa-rawa, jadi penampungan air. Airnya melimpah dan jatuh ke Perumahan Periuk Damai karena Periuk Damai itu paling rendah,” ujarnya.

Warga terdampak lainnya mengalami banjir dengan ketinggian ekstrem di sejumlah titik. Yayan mengatakan genangan air di wilayah terdalam mencapai beberapa meter hingga menenggelamkan rumah warga.

“Kira-kira tiga sampai empat meteran, sampai genteng,” ujarnya.

Terkait bantuan, Yayan menyebut logistik makanan cukup tersedia berkat bantuan dari berbagai pihak. Namun, ia menilai masih ada kebutuhan mendesak yang belum sepenuhnya terpenuhi bagi warga terdampak.

“Kalau nasi masih banyak, tapi bantuan kayak pampers belum ada,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kebutuhan utama warga terdampak saat ini adalah perlengkapan bayi dan air minum. Selain itu, makanan ringan juga dibutuhkan untuk anak-anak di lokasi pengungsian.

“Yang dibutuhkan itu pampers, air minum, sama makanan ringan buat anak-anak,” ujarnya.

Yayan berharap pemerintah segera memberikan solusi agar banjir tidak terus berulang. Menurutnya, perbaikan tanggul menjadi langkah penting untuk melindungi warga terdampak ke depan.

“Harapan kita itu pengen cepat-cepat segera diperbaharui, dibenerin tanggulnya,” ujarnya.

Meski terdampak cukup parah, warga mengapresiasi kehadiran Dinkes Kota Tangerang, BPBD, dan Kepolisian Polres Metro Tangerang Kota sejak hari pertama banjir. Petugas dinilai aktif memantau kondisi kesehatan dan keamanan situasi para pengungsi.

“Dari pertama banjir itu mereka sudah standby di sini,” ujarnya.

Hingga kini, ratusan warga terdampak banjir di Perumahan Periuk Damai masih bertahan di lokasi pengungsian sementara. Warga berharap air segera surut dan penanganan jangka panjang dari pemerintah segera direalisasikan.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.