JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mencapai lapisan atmosfer DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat berdasarkan citra satelit cuaca pada Jumat (16/10). Asap itu dipantau lewat satelit Himawari-9, sementara Pemprov DKI menyiagakan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi kualitas udara yang memburuk.
Kabar ini cepat menyebar dan memicu kekhawatiran warga. Namun para pejabat menekankan satu hal: asap yang terlihat di satelit belum tentu sama dengan udara yang dihirup warga di permukaan.
Terbang dari Kalimantan, melintasi Jawa
Asap yang terdeteksi di Jakarta termasuk dalam sebaran dari karhutla di Kalimantan. Pada citra pukul 13.00 WIB, asap terdeteksi di 31 wilayah Indonesia, dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. BMKG juga mencatat asap lintas negara dari Sumatera dan Kalimantan menuju Semenanjung Malaysia, serta ke Singapura. Judul salah satu laporan menyebut BMKG mendeteksi 1.297 titik panas di Indonesia.
Satelit bukan alat ukur udara pernapasan
Sekretaris Utama BMKG Guswanto menjelaskan bahwa citra sebaran asap menunjukkan keberadaan asap di atmosfer, bukan pengukuran langsung konsentrasi polutan di permukaan. BMKG masih memantau apakah asap itu berkaitan dengan naiknya polutan di permukaan Jakarta atau hanya melintas di lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Menurut Guswanto, yang paling menentukan risiko kesehatan adalah data kualitas udara (PM2.5/AQI) saat itu, bukan hanya citra satelit.
Apa kata data permukaan?
Data stasiun pemantau Jakarta sejauh ini belum menunjukkan lonjakan tajam. Pemprov Jakarta belum menemukan indikasi kuat asap karhutla telah mencapai udara permukaan, berdasarkan tren konsentrasi PM2,5 pada 1–16 Oktober 2026. Pemodelan lintasan udara HYSPLIT untuk 1–14 Oktober juga belum menunjukkan indikasi kuat perpindahan polutan karhutla dari Sumatera dan Kalimantan ke Jakarta.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi menyebut PM2.5 di stasiun referensi pada 1–14 Oktober berkisar 35–75 µg/m³ dengan pola fluktuasi cukup normal, tanpa peningkatan signifikan.
Di sisi lain, Gubernur Pramono Anung mengakui bahwa kondisi udara Jakarta memburuk dalam dua hingga tiga hari terakhir, tetapi memilih tidak berspekulasi soal penyebabnya. Perlu dicatat, Jakarta memang punya masalah polusi sendiri. Kualitas udara yang menurun belum tentu berasal dari asap kiriman.
Mengapa asap karhutla tetap perlu diwaspadai?
Asap karhutla berbeda dari polusi harian. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus (PM2.5), karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Partikel halus ini dapat masuk ke saluran pernapasan dan berisiko memicu:
- infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), serta iritasi mata dan kulit;
- gangguan sistemik seperti penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi.
Kelompok yang paling perlu waspada adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, dan pekerja luar ruangan.
Penjelasan Kemenkes itu disampaikan terkait kabut asap di wilayah lain pada Agustus lalu. Artinya, ini gambaran risiko umum paparan asap karhutla, bukan penilaian kondisi udara Jakarta saat ini.
Beban pernapasan warga ibu kota sudah berat
Jakarta masuk ke episode ini dengan “modal” yang kurang menguntungkan. Dinkes DKI mencatat 1.966.308 kasus ISPA hingga Oktober 2025, dan ISPA menjadi penyakit dengan kunjungan terbanyak di puskesmas. Pihak Dinkes menyebut tingginya polusi udara dan fenomena kemarau basah sebagai faktor dominan. Dinkes juga menyatakan infeksi pernapasan akut perlu diwaspadai, sementara fasilitas kesehatan disebut siap melayani. Tambahan paparan asap bisa memperberat kondisi kelompok rentan.
Yang bisa dilakukan warga
BMKG mengimbau agar langkah bersifat antisipatif, tanpa panik:
- Pantau kualitas udara lewat BMKG, Dinas Lingkungan Hidup, atau aplikasi pemantau udara. Jika udara masuk kategori tidak sehat, kurangi aktivitas di luar ruangan.
- Pakai masker respirator saat harus keluar. BMKG menyarankan N95, KN95, atau KF94 karena lebih efektif menyaring partikel halus asap dibanding masker kain biasa.
- Waspadai gejala seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, atau demam. Dinkes DKI mengimbau warga segera berobat ke fasilitas kesehatan agar terdeteksi dini.
- Lindungi kelompok rentan di rumah, terutama anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit paru atau jantung. Penderita asma atau PPOK sebaiknya memastikan obat rutinnya tersedia.







