JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Sebuah lagu terkadang bermula dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah catatan, perasaan yang belum selesai, atau percakapan dengan diri sendiri.
Bagi Aziz Hedra, “Backseat” lahir dari ruang personal tersebut. Single terbarunya merupakan hasil perenungan yang ia tuangkan melalui catatan jurnal pribadi selama menjalani perjalanan hidup dan karier sebagai musisi.
Setelah sukses memperkenalkan dirinya melalui “Somebody’s Pleasure” dan EP *Lesson Learned*, Aziz kini memilih berbicara lebih dalam mengenai proses pendewasaan.
“Backseat” merekam fase ketika ia menyadari bahwa perjalanan menuju impian tidak selalu berjalan lurus. Ada masa ketika seseorang harus beradaptasi, berhadapan dengan keraguan, bahkan merasa jauh dari tujuan awal.
“Dalam proses beradaptasi, aku sempat merasa jauh dari prinsip dan tujuan awalku,” ujar Aziz.
Kesadaran tersebut kemudian menjadi inti emosional lagu. Aziz tidak ingin mengajak pendengar untuk menolak perubahan, melainkan belajar menerima proses tanpa kehilangan fondasi yang membuat mereka tetap menjadi diri sendiri.
Menurutnya, keberanian untuk bertumbuh justru dapat ditemukan dengan kembali mengingat siapa diri kita sebelum kehidupan menjadi begitu kompleks.
“Seni bertumbuh itu adalah menemukan kembali keberanian untuk percaya pada mimpi sendiri,” katanya.
Secara aransemen, “Backseat” membawa karakter introspektif yang terasa sejak awal. Suara anak-anak disisipkan pada bagian intro untuk membangun atmosfer hangat dan nostalgia.
Pilihan tersebut terasa selaras dengan tema lirik yang membawa pendengar kembali kepada imajinasi masa kecil.
“Aku pernah menjadi anak penuh mimpi, tak ada yang terasa mustahil,” demikian salah satu penggalan lirik yang menjadi fondasi cerita lagu.
Produksi lagu ini melibatkan Dilla Sarah sebagai produser. Sementara Keke Kananta dari tim A&R Sony Music Entertainment Indonesia turut memberikan masukan dalam pengembangan kualitas produksi dan tekstur bunyi.
Kolaborasi tersebut membuat “Backseat” tetap memiliki sisi personal, namun dikemas dengan pendekatan musikal yang matang.
Aziz sendiri memandang mimpi sebagai sesuatu yang seharusnya tidak dibatasi oleh keadaan.
“Mimpi itu tak ada batasnya, mimpi itu gratis. Ambil yang paling mahal dan paling besar,” tuturnya.
Melalui lagu ini, ia berharap pendengar tidak hanya menikmati musik, tetapi juga menemukan bagian dari kisah mereka sendiri.
Ia ingin “Backseat” menjadi ruang aman bagi mereka yang mungkin sedang mempertanyakan arah perjalanan hidup.
“Harapanku, pendengar bisa kembali ke masa-masa kecil mereka, mengingat mimpi-mimpi mereka, dan percaya kembali bahwa segala hal itu mungkin,” ujar Aziz.
Dengan demikian, “Backseat” menjadi salah satu karya Aziz Hedra yang paling personal. Sebuah lagu yang tidak berusaha memberikan semua jawaban, tetapi mengajak pendengarnya mengingat satu hal penting: mimpi yang pernah dimiliki tetap layak untuk diperjuangkan. (san/*) #foto dok. sonymusicpubindonesia








