Candra Darusman Kembali, Lagu Lama Disulap Jadi Karya Baru yang Tak Terduga

Candra Darusman Kembali, Lagu Lama Disulap Jadi Karya Baru yang Tak Terduga
Candra Darusman Kembali, Lagu Lama Disulap Jadi Karya Baru yang Tak Terduga

JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Musisi senior Candra Darusman kembali hadir mempersembahkan album penuh makna bertajuk Detik Waktu #2: Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman. Album ini menjadi sekuel dari karya sebelumnya yang dirilis pada 2017 dan berhasil meraih penghargaan AMI Awards pada tahun berikutnya.

Kali ini, Candra menggandeng sejumlah musisi muda lintas genre untuk menghidupkan kembali lagu-lagu yang selama ini tenggelam dari perhatian publik.

Bacaan Lainnya

Proyek Detik Waktu #2 bukan hanya kumpulan lagu nostalgia, tetapi juga eksperimen lintas generasi yang berhasil mempertemukan musik era 80-an dengan nuansa kontemporer.

Nama-nama seperti Morad, Bilal Indrajaya, Oslo Ibrahim, hingga Natasya Elvira menjadi bagian penting dari interpretasi baru terhadap karya-karya lama Candra Darusman yang sebelumnya dianggap sebagai “side B” dari katalog musiknya.

Salah satu kolaborasi paling menarik dalam album ini datang dari aktris Dian Sastrowardoyo yang menyumbangkan vokal dalam lagu bernuansa bossa nova. Produser Nikita Dompas menyebut keputusan melibatkan Dian bukan karena nama besar, melainkan karena kebutuhan akan suara polos yang jujur dalam menyampaikan keintiman lagu tersebut. Proses rekaman dilakukan selama masa pandemi, membuat sebagian besar kolaborasi berlangsung secara daring.

Candra sendiri memposisikan album ini sebagai ruang terbuka bagi para musisi muda untuk membaca ulang karyanya dan menafsirkannya melalui pengalaman dan suara mereka sendiri.

Ia tidak hadir sebagai pengarah tunggal, melainkan sebagai pemantik dialog kreatif antar-generasi. Hal ini tercermin dalam kebebasan interpretasi yang diberikan kepada setiap penyanyi dalam mengolah lagu-lagunya.

Morad mengaku sempat merasa terkejut ketika pertama kali diminta membawakan lagu Candra bersama Sandy Sandoro. Meski belum mengenal lagunya secara mendalam, ia merasa bangga ketika lagu tersebut justru membawanya masuk nominasi AMI Awards.

Respons positif juga datang dari Natasya Elvira yang menganggap pengalaman ini sebagai kesempatan langka untuk terlibat dalam sejarah musik Indonesia.

Tidak hanya sisi musikal, kekuatan visual juga menjadi perhatian dalam proyek Detik Waktu #2. Sampul album menampilkan ilustrasi mobil klasik sebagai simbol perjalanan panjang Candra dalam dunia musik, sekaligus refleksi atas zaman yang telah berubah namun tetap relevan dalam kenangan. Visual ini sekaligus memperkuat konsep naratif album sebagai sebuah lintasan waktu.

Panji Prasetyo dari Signature Music menyebut bahwa ide awal proyek ini muncul di tengah pandemi, saat dunia terasa melambat dan introspektif.

Ia merasa banyak karya Candra yang belum mendapatkan panggung yang layak dan album ini menjadi upaya sadar untuk menyalakan kembali obor apresiasi terhadap kekayaan musik Indonesia yang sempat tersembunyi.

Dengan Detik Waktu #2, Candra Darusman sekali lagi membuktikan bahwa musik bukan sekadar produk zaman, tetapi juga jembatan lintas generasi. Album ini tak hanya menjadi pengingat akan kejayaan masa lalu, tetapi juga menyemai harapan bahwa musik Indonesia akan terus bergerak maju, tanpa melupakan akar dan nilai-nilai yang melahirkannya. 

(san/*) #foto dok.ig@officialcandradarusman

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.