TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID- Hadirnya Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi bentuk nyata perlindungan negara terhadap kesehatan seluruh lapisan masyarakat.
Dewi Tasari (27), merasakan langsung manfaat program ini saat anaknya harus mendapatkan perawatan medis karena mengalami kekurangan gizi.
Saat ditemui, Dewi mengungkapkan rasa syukurnya karena tak perlu khawatir akan biaya pengobatan anaknya. Seluruh proses, mulai dari pemeriksaan di Puskesmas hingga rujukan ke rumah sakit, dijamin penuh.
“Waktu itu saya cuma datang ke Posyandu untuk menimbang anak, pemeriksaan posyandu rutin aja seperti biasa. Tapi bidan di sana melihat berat badan anak saya turun dari sebelumnya. Lalu saya disarankan untuk bawa ke puskesmas biar diperiksa lebih lanjut. Awalnya saya pikir hal tersebut biasa dan hanya karena anak lagi susah makan saja, tapi ternyata lebih dari itu,” ungkap Dewi pada Senin 14 Juli 2025.
Dalam ceritanya, Dewi kemudian mengikuti saran bidan dan langsung membawa anaknya ke Puskesmas setempat. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis, dokter pun menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, karena adanya indikasi masalah gizi yang perlu perhatian lebih.
Ia pun diberikan surat rujukan ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lanjutan. Mendengar kata “dokter spesialis” dan “rumah sakit”, Dewi sempat merasa khawatir akan biaya yang harus ditanggung.
“Saya sempat takut dan khawatir karena dengar kata dokter spesialis. Hal yang pertama kali saya pikirkan adalah biaya yang besar. Apalagi saya belum tahu soal prosedur dan apakah harus bayar mahal. Tapi saya tetap jalani, demi kesehatan anak. Bagi saya dan suami, kesehatan anak adalah prioritas nomor satu. Untuk biaya kami pikirkan belakangan yang penting anak kami sehat,” ujar Dewi.
Dari hasil pemeriksaan darah dan rontgen, anak Dewi dinyatakan mengalami kekurangan gizi dan perlu dilakukan pemantauan rutin. Namun, Dewi merasa takjub dengan semua proses tersebut, tak sepeser pun biaya yang diminta. Semua pelayanan yang diberikan rumah sakit ternyata sepenuhnya dijamin oleh Program JKN. Dewi mengaku terkejut sekaligus bersyukur karena selama ini ia tidak menyadari bahwa anaknya sudah terdaftar sebagai peserta JKN.
“Saya benar-benar gak nyangka. Awalnya saya gak tau kalau Program JKN itu bisa digunakan untuk berobat gratis. Bahkan saya sendiri gak tahu anak saya sudah didaftarkan sebelumnya oleh perusahaan tempat suami saya bekerja. Semua dibantu oleh petugas rumah sakit dan Puskesmas. Ini membuat saya lega sekaligus bersyukur, karena dari pemeriksaan darah sampai rontgen semuanya dijamin oleh Program JKN tanpa biaya,” jelas Dewi.
Menutup ceritanya, Dewi merasa bahwa pengalamannya menjadi pelajaran penting tentang arti gotong royong dalam sistem Program JKN. Ia kini aktif berbagi cerita kepada para ibu lain di lingkungannya, agar tidak takut memanfaatkan fasilitas kesehatan terutama jika telah terdaftar sebagai peserta JKN.
Menurutnya, setiap orang kini memiliki kesempatan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas. Ia berharap Program JKN ini terus berlanjut dan dapat menjangkau seluruh masyarakat Indonesia.
“Kalau bukan karena Program JKN, mungkin saya gak akan berani bawa anak ke dokter spesialis. Sekarang saya jadi semangat ajak ibu-ibu lain untuk periksa rutin ke posyandu dan puskesmas. Kita kadang suka takut duluan soal biaya, padahal ada Program JKN yang bantu.
Jadi jangan ragu, saya juga jadi suka mengajak ibu-ibu lain untuk membayar iuran secara rutin. Program ini sangat membantu jadi saya berharap program ini terus ada dan yang pasti pelayanannya harus lebih baik lagi,” pungkas Dewi.









