TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Ketua DPRD Kota Tangerang, Rusdi Alam, menyoroti kondisi jaringan utilitas yang dinilai belum tertata dan merugikan wajah kota. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027.
Ia menilai keberadaan jaringan utilitas saat ini lebih banyak menimbulkan dampak negatif dibandingkan manfaat. Kondisi tersebut dinilai mencoreng tata kota dan kenyamanan lingkungan.
“Jaringan utilitas kita hari ini hanya mencoreng citra estetika kota,” tegas Rusdi Alam.
Rusdi menyebut penataan kabel udara dan jaringan lainnya tidak sebanding dengan kontribusi terhadap daerah. Menurutnya, masyarakat dan pemerintah kota justru dirugikan.
“Sampai saat ini, masyarakat dan pemerintah kota hanya merasakan dampak negatif dari pemasangan jaringan yang tidak tertata,” ujarnya.
BACA JUGA : Oknum Guru SDN Rawabuntu 01 jadi Tersangka Dugaan Pencabulan Belasan Murid
Ia juga menyoroti belum adanya pemasukan signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor jaringan utilitas. Padahal, infrastruktur tersebut terpasang masif di ruang publik.
Selain itu, belum ada aturan kuat yang mewajibkan operator beralih ke sistem kabel bawah tanah. Oleh karena itu, Rusdi mendorong percepatan penyelesaian Raperda Penyelenggaraan Pembangunan Jaringan Utilitas.
Rusdi menargetkan Raperda tersebut rampung pada 2026 sebagai dasar hukum penataan kota. Regulasi ini diharapkan memberi kewenangan penuh kepada pemerintah daerah.
“Kita butuh dasar regulasi itu. Jadi mau tidak mau, saya berharap Perda ini bisa clear di tahun 2026,” katanya.
Terpisah, kondisi kabel udara semrawut di sepanjang Jalan M Toha menimbulkan kekhawatiran warga. Kabel tampak menjuntai rendah dan tidak tertata di area aktivitas masyarakat.
BACA JUGA : Logo HUT ke-33 Kota Tangerang Resmi Diperkenalkan, Usung Semangat Kolaborasi Pelayanan
Salah satu pedagang kaki lima, Epa (45), mengaku waswas setiap hari saat berjualan di bawah kabel tersebut. Ia telah berjualan di lokasi itu selama kurang lebih tiga tahun.
“Serem. Takut saya,” ujarnya.
Epa menyebut kondisi kabel sudah semrawut sejak ia mulai berjualan. Bahkan, menurutnya, jumlah kabel semakin bertambah.
“Saya di sini sudah tiga tahunan, dari awal jualan kabelnya sudah kayak gini. Malah di belakang-belakang sana lebih banyak lagi. Nggak tahu ini mau lapor ke mana, bingung,” katanya.
Kabel yang tidak tertata dinilai berpotensi menimbulkan bahaya, terutama saat hujan. Risiko korsleting dan sengatan listrik menjadi kekhawatiran utama.
Meski belum pernah mengalami kesetrum, Epa mengaku rasa takut selalu ada. Ia berharap tidak terjadi kejadian yang membahayakan.
“Alhamdulillah belum pernah kesetrum, jangan sampai. Takut saya,” tuturnya.
Ia juga menyebut belum pernah melihat adanya pendataan dari pemerintah terkait kondisi kabel tersebut. Perbaikan selama ini hanya dilakukan oleh penyedia layanan masing-masing.
“Kalau dari pemerintah belum ada. Paling cuma petugas internet datang, benerin kabelnya sendiri-sendiri,” ujarnya.
Kondisi ini mencerminkan lemahnya koordinasi antarinstansi dan penyedia layanan. Padahal, Jalan M Toha merupakan kawasan ramai dan pusat aktivitas ekonomi warga.








