Diminta Mundur dari SMAN 14, Siswa Tegaskan Statusnya Hanya Admin Grup, Bukan Pemimpin Kelompok

Diminta Mundur dari SMAN 14, Siswa Tegaskan Statusnya Hanya Admin Grup, Bukan Pemimpin Kelompok
Diminta Mundur dari SMAN 14, Siswa Tegaskan Statusnya Hanya Admin Grup, Bukan Pemimpin Kelompok

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Polemik pengunduran diri siswa kelas XII SMAN 14 Kota Tangerang, Dias Al Hadi, mencuat setelah orang tuanya mempertanyakan bukti dugaan perundungan, pemalakan, dan perekrutan siswa yang menjadi dasar keputusan sekolah. Keluarga mengaku diminta menandatangani surat pengunduran diri tanpa pernah diperlihatkan bukti tersebut.

Ayah Dias, Sartono, mengatakan dirinya dipanggil ke sekolah tanpa mengetahui persoalan yang akan dibahas. Saat datang bersama istrinya, ia justru diminta menandatangani surat pengunduran diri putranya.

Bacaan Lainnya

“Saya datang ke sekolah hanya memenuhi undangan. Tidak ada penjelasan mengenai persoalannya, setelah sampai di sana saya justru diminta menandatangani surat pengunduran diri anak saya,” kata Sartono, saat dikonfirmasi Lensa Banten pada Jumat, 31 Juli 2026.

Sartono mengaku menandatangani surat tersebut karena khawatir persoalan Dias berlanjut ke ranah hukum. Ia kemudian mendatangi Polsek Batuceper untuk memastikan dugaan keterlibatan putranya dalam geng motor maupun tawuran.

“Dari Polsek saya mendapat penjelasan bahwa anak saya tidak tersangkut persoalan hukum maupun geng motor,” ujarnya.

Keluarga kemudian kembali meminta sekolah menunjukkan bukti yang menjadi dasar keputusan tersebut. Namun, Sartono mengaku pihak sekolah menyebut bukti asli sudah dihapus dan hanya tersisa foto yang juga tidak diperlihatkan.

“Saya minta diperlihatkan, katanya tinggal ada foto karena bukti aslinya sudah dihapus. Tetapi fotonya juga tidak ditunjukkan,” katanya.

Dias Akui Jadi Admin Grup 

Dias membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia mengakui sebagai salah satu admin grup WhatsApp yang dipersoalkan sekolah, tetapi membantah dirinya merupakan ketua kelompok.

“Saya memang admin grup, tetapi adminnya ada dua orang. Admin bukan berarti ketua,” kata Dias.

Ia juga membantah melakukan pemalakan dan perekrutan siswa. Menurutnya, uang yang dikumpulkan merupakan iuran sukarela untuk membeli makanan, sedangkan tautan grup dibagikan kepada teman-teman yang memang sudah berkumpul.

“Patungannya seikhlasnya, ada yang Rp2.000 sampai Rp3.000. Totalnya sekitar Rp100 ribu buat beli jajanan. Tidak ada pemaksaan,” ujarnya.

Sekolah Sebut Hasil Pendalaman

Wakil Kepala SMAN 14 Kota Tangerang, Suhenda, mengatakan keputusan meminta Dias mengundurkan diri bukan keputusan sepihak. Sekolah mengaku telah melakukan pendalaman terhadap siswa kelas X, XI, dan XII dengan melibatkan guru, wali kelas, BK, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas.

Menurut Suhenda, hasil pendalaman mengarah pada dugaan adanya kelompok di luar organisasi resmi sekolah bernama Bad Boy yang beranggotakan sekitar 64 siswa lintas angkatan. Kelompok tersebut diduga melakukan perekrutan, pemungutan iuran, intimidasi, hingga pemaksaan merokok.

“Berdasarkan keterangan para siswa, ada perekrutan organisasi di luar sekolah yang di dalamnya terdapat pemaksaan dan intimidasi,” kata Suhenda.

Suhenda menegaskan keputusan terhadap Dias bukan semata karena persoalan merokok. Menurutnya, keterangan siswa lintas angkatan mengarah kepada Dias sebagai sosok yang disebut memimpin kelompok tersebut.

“Kita dalami semua satu per satu. Keterangan dari kelas 10, kelas 11, sampai kelas 12 mengarah kepada yang bersangkutan,” ujarnya.

Sekolah Bantah Ada Paksaan

Suhenda membantah adanya paksaan terhadap orang tua Dias saat menandatangani surat pengunduran diri. Ia mengatakan keputusan tersebut diambil melalui dialog dengan keluarga dan demi menjaga keamanan lingkungan sekolah.

“Tidak ada paksaan. Kami berusaha memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa langkah ini demi kebaikan bersama,” katanya.

Terkait bukti, Suhenda menyebut sekolah memiliki keterangan tertulis dari para siswa yang disaksikan orang tua masing-masing serta hasil pengamatan guru. Ia juga menegaskan sekolah tidak bermaksud menghentikan pendidikan Dias.

“Kami ingin Dias tetap sekolah sampai selesai walaupun tidak di sini. Kami siap membantu mencarikan sekolah lain dan mengantarkannya,” tutupnya.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.