PANDEGLANG, LENSABANTEN.CO.ID — Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Upacara bendera digelar di banyak instansi dan sekolah. Namun di balik rutinitas itu ada sejumlah fakta yang jarang dibahas.
Tahun ini peringatan mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Menteri Kebudayaan telah merilis pedoman peringatan 2026 lewat surat yang memuat tema, agenda, hingga upacara bendera.
Bukan Hari Lahir Pancasila
Dua peringatan ini sering tertukar. Hari Lahir Pancasila jatuh pada 1 Juni dan berkaitan dengan pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 tentang dasar negara. Peringatan 1 Oktober berkaitan dengan peristiwa 1965 dan sejarah penetapan tanggal tersebut. Sesuai SKB 3 Menteri, 1 Oktober juga bukan hari libur nasional.
Awalnya Hanya untuk TNI AD
Peringatan ini tidak langsung berlaku untuk seluruh rakyat. Lewat surat keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat tertanggal 17 September 1966, 1 Oktober mula-mula wajib diperingati jajaran Angkatan Darat. Pada 24 September 1966, Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian mengusulkan agar seluruh jajaran Angkatan Bersenjata ikut memperingatinya. Penguatannya datang setahun kemudian. Pemerintah menetapkan hari ini secara resmi lewat Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967.
Upacara Dua Hari, Bendera Dikerek sampai Puncak
Pada masa Orde Baru, upacara dilakukan dua hari, yakni 30 September dan 1 Oktober. Pada hari kedua, bendera dikerek hingga puncak tiang sebagai tanda keberhasilan Orde Baru memberangus komunisme.
Nama Lubang Buaya Lebih Tua dari Tragedi 1965
Banyak orang mengira nama Lubang Buaya lahir dari peristiwa 1965. Nama tempat di Cipayung, Jakarta Timur, itu sudah lama dipakai, jauh sebelum 30 September 1965. Konon nama itu diberikan oleh tokoh sakti zaman dahulu bernama Datuk Banjir, dan tempat itu dikenal sebagai sarang buaya ganas.
Angka-angka Bermakna di Monumen Pancasila Sakti
Monumen di Lubang Buaya menyimpan simbol yang kerap luput dari pengunjung. Tujuh patung Pahlawan Revolusi berdiri 45 meter di utara sumur, angka yang melambangkan tahun kemerdekaan. Latar dindingnya setinggi 17 meter, melambangkan tanggal kemerdekaan.
Kawasan itu pun tidak selalu berupa kompleks monumen. Lahan 14,6 hektare tersebut awalnya kebun dan rawa kosong. Sumur tua di sana berdiameter 75 sentimeter dengan kedalaman 12 meter. Monumen ini dibuat oleh maestro seni Edhi Sunarso.
Diresmikan Tepat pada Hari Peringatan
Pembangunan dimulai pertengahan Agustus 1967, dan monumen diresmikan Presiden Soeharto pada 1 Oktober 1973, bertepatan dengan peringatan Kesaktian Pancasila. Museum di kompleks itu menyusul kemudian. Museum tersebut diresmikan pada 1 Oktober 1992 dan menyajikan peristiwa 1965 dalam bentuk diorama tiga dimensi. Koleksinya antara lain pakaian asli tujuh Pahlawan Revolusi.
Tetap Diperingati Setelah Reformasi, Kajian Terus Berkembang
Setelah Reformasi 1998, Hari Kesaktian Pancasila tetap dipertahankan sebagai hari nasional. Kajian sejarah tentang peristiwa yang melatarbelakanginya terus berkembang dan memunculkan berbagai perspektif baru di kalangan akademisi.
Jangan Berhenti di Seremoni
Peneliti pendidikan BRIN, Hastangka, mengingatkan agar peringatan ini tidak berhenti sebagai memorial. Menurut dia, peringatan perlu dikontekstualisasikan dengan kondisi bangsa saat ini. Ia mencontohkan kesaktian Pancasila yang harus terlihat dalam penegakan hukum yang adil, ekonomi yang berpihak pada rakyat, dan akses pendidikan. Pandangan itu disampaikannya pada peringatan tahun lalu.







