Pasca Tabrakan KA Bandara Soetta di Poris, DPRD Minta Solusi Permanen Perlintasan Rel

Pasca Tabrakan KA Bandara Soetta di Poris, DPRD Minta Solusi Permanen Perlintasan Rel

TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Insiden tabrakan antara kereta cepat rute Bandara Soekarno-Hatta dan truk trailer di perlintasan rel Stasiun Poris pada Jumat pagi, 20 Februari 2026 itu dinilai sebagai alarm keras bagi pemerintah dan pemangku kebijakan.

Anggota DPRD Kota Tangerang dari Fraksi PDI Perjuangan, Teja Kusuma, meminta agar pembangunan jalan tidak sebidang seperti flyover atau underpass di lintasan tersebut segera diwujudkan.

Bacaan Lainnya

Ia menilai lonjakan volume kendaraan sudah tidak sebanding dengan kondisi perlintasan yang masih sebidang.

“Pembangunan flyover atau underpass di lintasan Stasiun Poris adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Volume pengguna jalan sangat tinggi, ditambah kawasan ini dikelilingi permukiman padat penduduk. Ini soal keselamatan,” kata Teja pada Sabtu, 21 Februari 2026.

Menurut Teja, perlintasan sebidang di kawasan Poris sejak lama dikenal sebagai titik rawan kecelakaan. Tanpa pembenahan infrastruktur secara menyeluruh, potensi kejadian serupa disebut akan terus berulang.

“Kejadian ini harus memantik evaluasi total di mana pun perlintasan kereta api berada di jalur padat penduduk. Jika tidak diperbaiki infrastrukturnya melalui pembangunan flyover atau underpass, maka jalur Stasiun Poris akan terus menjadi arena gladiator tanpa solusi,” tegasnya.

Ia menjelaskan, lintasan rel di sekitar Stasiun Poris kerap dilanda kemacetan parah, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja. Antrean kendaraan kerap memanjang karena arus lalu lintas harus bersinggungan langsung dengan jalur rel aktif.

BACA JUGA  : Motor Raib saat Salat Jumat, Korban Enggan Lapor Lantaran Pesimistis

Selain faktor kepadatan, perbedaan ketinggian antara rel dan badan jalan juga dinilai memperbesar risiko kecelakaan. Kendaraan besar seperti truk dan trailer disebut lebih rentan tersangkut saat melintas.

“Di lokasi itu, kemacetan sudah sering terjadi, kecelakaan juga berulang. Ditambah lagi permukaan rel yang lebih tinggi dari jalan membuat kendaraan, terutama yang bermuatan besar, sangat rawan tersangkut. Ini bukan kejadian yang berdiri sendiri,” ujarnya.

Ia menegaskan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlintasan sebidang sudah tidak relevan dengan tingkat mobilitas masyarakat saat ini. Karena itu, diperlukan solusi permanen yang memisahkan arus kereta dan kendaraan.

“Karena itu, solusinya harus konkret. Tidak cukup hanya imbauan atau pengaturan sementara. Harus ada pembangunan flyover atau underpass agar arus kendaraan dan kereta benar-benar terpisah. Ini soal keselamatan publik,” tegasnya.

BACA JUGA  : Empat Pria Diciduk, Polisi Bongkar Peredaran Sabu 2,55 Gram di Teluknaga

Tak hanya infrastruktur, Teja juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap aspek manajemen transportasi pascakecelakaan. Ia menilai sejumlah elemen lain perlu menjadi perhatian serius, termasuk dampak kerugian bagi penumpang.

“Manajemen transportasinya, kondisi dan kerusakan kereta, infrastruktur jalan, sarana publik yang rusak, hingga kerugian materiil penumpang akibat pembatalan perjalanan, semuanya harus menjadi evaluasi besar. Termasuk budaya tertib lalu lintas kita,” ujarnya.

Diketahui, kecelakaan terjadi saat kereta Commuter Line tujuan Bandara Soekarno-Hatta bertabrakan dengan truk trailer yang tidak berhasil melintasi rel. Peristiwa itu sempat mengganggu perjalanan kereta dan aktivitas warga di jam sibuk pagi.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.