TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Seorang pengendara motor diduga mengalami tindakan rasisme ketika melintas di tengah massa aksi yang berlangsung di Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikokol, Kota Tangerang, pada Jumat, 29 Agustus malam.
Kejadian itu terjadi ketika situasi di sekitar lokasi sedang ramai oleh kerumunan massa aksi dari berbagai elemen masyarakat yang menuntut aspirasi politik. Dugaan tindakan rasisme tersebut memunculkan perhatian publik karena dianggap mencederai jalannya aksi yang berlangsung secara damai.
Pengendara yang menjadi korban disebut merupakan seorang mahasiswa dari salah satu kampus di Kota Tangerang. Ia mengaku mendapatkan perlakuan diskriminatif dari seorang pria tak dikenal yang menghentikan laju kendaraannya di tengah keramaian. Insiden itu menimbulkan rasa panik karena terjadi di tengah massa aksi dan di bawah pengawasan aparat keamanan.
Korban yang memperkenalkan diri dengan nama Malcom kemudian memberikan kesaksian mengenai kronologi peristiwa tersebut. Ia menceritakan bahwa kejadian bermula ketika dirinya keluar dari kawasan Tece sekitar pukul 07.00 malam dan hendak melanjutkan perjalanan. Karena jalur kiri dipadati oleh massa aksi, Malcom memutuskan untuk mengambil jalur kanan yang mengarah ke kawasan Gajah Tunggal.
“Sekitar pukul 07.00 kurang, saya keluar dari Tece. Awalnya mau ambil jalur kiri, tapi karena ada aksi demo jadi saya putuskan ambil kanan lewat arah Gajah Tunggal. Awalnya biasa saja, sampai tiba-tiba ada seorang pria menghentikan saya. Dia pakai masker, jadi saya tidak kenal. Orang itu nyuruh saya buka helm,” ungkap Malcom saat dihubungi lewat telepon Instagram pada Sabtu, 30 Agustus 2025.
Ia menjelaskan bahwa pria yang menghentikannya langsung meminta dirinya membuka helm dan masker yang sedang dikenakan. Permintaan itu tentu saja menimbulkan rasa curiga, sebab tidak jelas alasan apa yang melatarbelakanginya. Namun karena ditekan, ia akhirnya menuruti perintah orang tersebut dengan membuka sedikit maskernya.
“Saya sempat tanya, kenapa harus buka helm, dia jawab, ‘Udah buka aja dulu.’ Pas saya buka sedikit masker, orang itu langsung teriak ‘Cina-cina!’,” jelasnya.
Teriakan tersebut membuat Malcom terkejut dan merasa tidak aman berada di tengah keramaian yang masih dipadati massa aksi. Perilaku yang dilontarkan pria itu dianggapnya sebagai bentuk rasisme yang diarahkan langsung kepadanya.
Menurut Malcom, insiden itu terjadi di sekitar patung, tepat sebelum gang masjid yang ada di jalur tersebut. Ia mengaku melihat massa aksi sedang berkerumun di sisi kiri jalan, namun tidak ada aparat kepolisian yang terlihat di sekitar titik ia dihentikan. Situasi tersebut membuat dirinya semakin panik karena merasa tidak ada pihak yang bisa langsung dimintai perlindungan.
“Pria itu sendirian, tidak pakai almamater. Pakaiannya biasa saja, kaos dan celana panjang, wajahnya tertutup masker. Begitu dia teriak, saya langsung tancap gas. Tapi karena rame, motor tidak bisa kencang. Saat sudah agak maju ke depan, tiba-tiba ada batu dilempar ke arah saya dan mengenai helm, tapi saya tidak tahu siapa yang lempar,” tuturnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Forum Aksi Mahasiswa (FAM) Kota Tangerang, Akbar Ridho, menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukanlah bagian dari tindakan yang dilakukan oleh massa aksi. Menurutnya, ada pihak yang sengaja melakukan provokasi untuk memancing keributan di tengah aksi yang sebenarnya berlangsung damai. Ia pun menolak jika massa aksi dituding sebagai pelaku tindakan rasisme tersebut.
“Jam 7-an itu kan masih kondusif. Kemarin karena sudah crowded memang mau disulut amarah publiknya. Saya bisa pastikan bukan salah satu tindakan massa aksi,” ujar Akbar Ridho, saat dikonfirmasi Lensa Banten lewat pesan WhatsApp pada Senin, 1 September 2025.
Pernyataan itu ia sampaikan untuk meluruskan bahwa insiden tersebut murni ulah provokator dan tidak terkait dengan mahasiswa maupun elemen lain yang ikut berdemo. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah termakan isu yang bisa menimbulkan perpecahan.
Akbar menjelaskan lebih lanjut bahwa massa aksi yang terdiri dari mahasiswa, pemuda, pengemudi ojek online, dan pelajar berada di tengah jalan untuk menyuarakan tuntutannya. Sementara itu, aparat keamanan yang terdiri dari TNI, intelijen, dan kepolisian berjaga mulai dari sekitar halte hingga ke depan Patung Gajah. Menurutnya, kondisi ini justru memperkuat dugaan adanya pihak luar yang mencoba menyusup dan memprovokasi.
“Provokator itu jelas bukan bagian dari kita. Massa aksi ada di tengah jalan, sekitar halte sampai depan Patung Gajah itu kan diisi sama aparat, baik TNI, intel, maupun polisi. Isunya juga makin jelas kalau memang ada upaya adu domba dari aparat,” katanya.
Ia menilai pola provokasi seperti ini sudah sering terjadi dalam momentum unjuk rasa besar, di mana isu sensitif seperti rasisme kerap dipakai untuk memecah konsentrasi publik.
Lebih jauh, Akbar menegaskan bahwa meskipun ada upaya provokasi, jalannya aksi tetap berlangsung kondusif dan terkendali. Ia menyampaikan bahwa mahasiswa bersama elemen masyarakat lain tetap fokus pada tuntutan utama yang disuarakan. Aksi yang digelar dianggap berjalan sesuai dengan substansi dan tidak berujung pada kerusuhan.
“Untungnya demo kemarin terbilang kondusif, tidak ada kerusuhan. Kita jalankan sesuai substansi,” tutupnya.
Menurutnya, hal itu menjadi bukti bahwa massa aksi mampu mengendalikan diri dan tidak mudah terpancing meskipun ada upaya adu domba yang sangat jelas terlihat. Ia berharap publik tidak salah memahami jalannya aksi yang sebenarnya damai.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi mengenai dugaan insiden rasisme yang dialami oleh Malcom. Aparat keamanan diminta segera menelusuri kebenaran peristiwa tersebut agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Langkah cepat dinilai penting untuk mencegah terjadinya konflik horizontal di tengah masyarakat yang bisa semakin memperkeruh suasana.
Penulis : Dony Ambarita
Editor : Eky F.








