KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Ribuan warga dari berbagai daerah di Indonesia memadati kawasan Vihara Dhamma Budhi Bhakti di Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Ahad 27 September 2026, dalam rangkaian acara Kirab Budaya dan Ruwat Bumi 2026 yang sekaligus memperingati HUT ke-43 Klenteng Tjie Thien Ta Sen.
Sebanyak 90 joli atau tandu dari berbagai daerah turut memeriahkan perhelatan tahunan tersebut, di antaranya berasal dari Bogor, Semarang, Serang, Sukabumi, dan Palembang.
Ketua Vihara Dhamma Budhi Bhakti Suhu Benny Susanto mengatakan kirab budaya dan ruwat bumi merupakan tradisi turun-temurun dari kesenian vihara dan klenteng yang terus dilestarikan hingga kini.
“Kirab budaya dan ruwat bumi, ya, itu sudah tradisi dari kesenian-kesenian vihara atau klenteng. Semoga dengan adanya kirab budaya yang saya lakukan ini atau yang vihara atau klenteng lakukan ini, semoga Indonesia aman, sentosa, damai, tenteram, bahagia,” kata Benny.
Ia mengaku bangga atas antusiasme warga Tangerang yang memadati sepanjang rute kirab. Menurutnya, penonton memenuhi area dari ujung ke ujung selama prosesi berlangsung.

“Mereka antusias sekali penontonnya, dari ujung sampai ke ujung saya keliling, semuanya dipenuhi. Semoga kirab budaya ini akan membawa sebuah berkah, itu yang saya harapkan,” ujarnya.
Benny merinci, dari total 90 joli yang hadir tahun ini, tujuh di antaranya merupakan joli tuan rumah, sehingga peserta dari luar daerah yang berpartisipasi berjumlah 83 joli. Ia menyebut jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan penyelenggaraan pada 2019 yang diikuti oleh 124 joli.
“Klenteng yang datang dari Palembang ada, Jawa Tengah ada, Jawa Barat, Serang-Banten. Total semua 90, tapi joli tuan rumah 7, berarti yang ikut 83 joli atau tandu. Sebenarnya kenapa saya tekankan tahun ini hanya 90? Waktu 2019, saya dapat muri vihara ini total 124 joli,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Supriyadi menuturkan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan kekerabatan dan silaturahmi antarumat beragama di Indonesia.
“Kita semua berada di sini tentu dalam rangka untuk memperkuat hubungan, kekerabatan, silaturahmi antara kita, agar apa yang kita dapatkan dari ini sebagai rasa syukur kita, berkat buat bangsa Indonesia, kita wujudkan dalam sebuah kebersamaan,” kata Supriyadi.
Ia berharap kebersamaan yang terjalin dapat terus terjaga sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkokoh dan mempertahankan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Semoga kirab budaya ini semakin memperkuat hubungan kita, terlepas dari berbagai keyakinan, terlepas dari berbagai adat istiadat, dan semua itu menjadi kekuatan untuk kita menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai,” ujarnya.
Ia menutup sambutannya dengan mengajak seluruh masyarakat turut menyaksikan jalannya kirab sekaligus mendoakan agar tradisi tersebut terus membawa berkah bagi bangsa.
“Selamat menonton kirab, semoga lentera dan lampu senantiasa memberkahi dan semoga kita semua berbahagia,” kata Supriyadi.








