TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Perayaan Ibadat Jumat Agung yang digelar pada Jumat, 3 April 2026 di Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSPMTB) Paroki Tangerang berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Ribuan umat tampak memadati gereja untuk mengikuti rangkaian ibadat dalam Pekan Suci tersebut.
Ibadat dipimpin oleh Nicolaus Dibyadarmaja, SJ, yang mengajak umat merenungkan makna pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Suasana hening dan penuh penghayatan terasa sejak awal hingga akhir ibadat.
Sebanyak kurang lebih 6.000 umat hadir dalam perayaan tersebut. Kehadiran umat yang membludak tetap berjalan tertib berkat pengaturan panitia gereja.
Dalam khotbahnya, Romo Nicolaus menekankan bahwa Jumat Agung bukan sekadar mengenang penderitaan Kristus. Ia mengajak umat untuk menjadikan momen ini sebagai refleksi pembaruan hidup.
“Kematian Kristus di kayu salib bukan akhir, tetapi awal pembaruan hidup kita sebagai manusia,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa setiap umat dipanggil untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Pesan ini disampaikan sebagai bagian dari refleksi iman dalam menyambut Paskah.
“Kita dipanggil meninggalkan manusia lama dan hidup sebagai ciptaan baru di dalam Kristus,” jelasnya.
Romo Nicolaus turut mengingatkan pentingnya menghidupi nilai pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata kepada sesama.
“Pengorbanan menjadi nyata saat kita mampu mengasihi, mengampuni, dan peduli kepada sesama,” imbuhnya.
Perayaan Jumat Agung tahun ini mengusung tema “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita” (bdk. 2 Korintus 5:17). Tema tersebut menjadi pengingat bagi umat untuk terus hidup dalam kasih dan pengharapan.
Sejumlah umat mengaku tersentuh dengan jalannya ibadat yang berlangsung khidmat. Mereka merasakan suasana refleksi yang mendalam sepanjang perayaan.
Salah satu umat, Maria, mengungkapkan bahwa momen Jumat Agung kali ini terasa lebih menyentuh secara pribadi. Ia mengaku semakin menghayati makna pengorbanan Kristus.
“Ibadatnya sangat menyentuh, apalagi saat penghormatan salib, saya jadi lebih menghayati pengorbanan Tuhan Yesus,” kata Maria.
Umat lainnya, Antonius, menilai suasana ibadat tetap kondusif meski dihadiri ribuan orang. Ia merasa tetap bisa berdoa dengan tenang sepanjang perayaan.
“Walaupun ramai, suasananya tetap tenang dan khusyuk, jadi lebih fokus berdoa,” ungkap Antonius.
Sementara itu, Yohana mengaku mendapatkan kekuatan baru setelah mengikuti ibadat tersebut. Ia merasa lebih siap menjalani kehidupan dengan semangat iman yang diperbarui.
“Saya merasa dikuatkan kembali untuk menjalani hidup dengan lebih baik setelah mengikuti ibadat ini,” tutur Yohana.
Ibadat Jumat Agung di Gereja HSPMTB Paroki Tangerang menjadi momentum penting bagi umat untuk memperdalam iman. Perayaan ini juga memperkuat kesiapan umat dalam menyambut Hari Raya Paskah 2026. All foto oleh: Komsos Gereja HSPMBTB









