TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Kota Tangerang menggelar konsolidasi solidaritas usai Lebaran 2026. Kegiatan ini dilakukan sebagai respons atas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andri Yunus, pada Kamis malam, 12 Maret 2026.
Peristiwa tersebut dinilai sebagai ancaman serius terhadap kebebasan berpendapat dan iklim demokrasi. Karena itu, mahasiswa lintas organisasi menyatukan sikap untuk meresponsnya secara bersama.
Ketua DPC GMNI Kota Tangerang sekaligus perwakilan Cipayung Plus, Elwin Mendrofa, mengatakan bahwa aksi solidaritas sebenarnya tetap direncanakan. Namun, hingga kini aksi tersebut masih ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan karena menunggu hasil konsolidasi.
“Ya demo sih harusnya jadi, cuma teman-teman masih konsol terlebih dahulu, konsolidasi dulu antar teman-teman Cipayung,” ujarnya kepada Lensa Banten saat dihubungi lewat telepon WhatsApp.
Organisasi yang terlibat dalam Cipayung Plus Kota Tangerang meliputi GMNI, HMI Dipo, dan PMII. Ketiganya sepakat bahwa kekerasan terhadap aktivis merupakan bentuk intimidasi yang tidak bisa dibiarkan.
Aksi lanjutan sebelumnya direncanakan digelar pada Rabu, 1 April 2026 di Tugu Adipura, Kota Tangerang. Namun, rencana tersebut ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan karena ada kendala kesiapan internal.
“Harusnya hari Rabu kemarin itu kita mau turun, cuma salah satu dari ketua Cipayung itu masih belum di Tangerang, masih di kampung,” jelas Elwin.
Rencana aksi sempat dijadwalkan ulang untuk Jumat, 3 April 2026. Meski begitu, aksi kembali ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan karena bertepatan dengan perayaan Hari Paskah.
“Hari ini enggak jadi dulu. Heeh, masih konsol dulu. Karena hari Jumat ini ternyata juga hari Paskah kan,” ungkapnya.
Elwin menambahkan, saat ini komunikasi antarorganisasi masih terus berjalan. Konsolidasi lanjutan akan dilakukan untuk menentukan waktu yang tepat sebelum aksi benar-benar digelar.
“Konsol dulu nih, minggu ini kalau jadi hari Minggu besok nih konsol,” katanya.
Ia memastikan bahwa penundaan ini bukan berarti aksi dibatalkan. Justru, konsolidasi dilakukan agar aksi ke depan lebih matang dan terarah, meski hingga kini masih ditunda dalam waktu yang belum ditentukan.
“Hasil konsul sih itu justru konsolidasi ini nanti untuk pelaksanaan aksinya. Iya, rencananya di Tugu Adipura rencananya,” paparnya.
Selain itu, Elwin juga menyoroti bahwa kasus kekerasan terhadap aktivis bukanlah kejadian tunggal. Ia menilai fenomena intimidasi terhadap gerakan sipil terjadi di berbagai daerah.
“Soalnya kan ini kan studi kasus ini kan di mana-mana sudah pada diteror-teror juga kebanyakan. Jadi makanya teman-teman ini menyusun konsolidasi dulu yang matang strateginya seperti apa,” imbuhnya.
Konsolidasi ini menjadi langkah awal mahasiswa dalam merespons situasi yang dinilai mengancam demokrasi. Meski aksi masih ditunda dalam waktu yang tidak ditentukan, komitmen untuk terus mengawal isu ini tetap kuat.










