KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Menyandang gelar Putri Budaya Banten 2026 menjadi amanah besar bagi Aqilah Keisya Armitha. Perempuan asal Kota Tangerang itu bertekad menjadikan budaya Banten semakin dekat dengan generasi muda melalui pendekatan kreatif, inovatif, dan mengikuti perkembangan zaman.
Aqilah, yang merupakan alumnus SMAN 2 Kota Tangerang dan saat ini menempuh pendidikan S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menilai gelar yang diraihnya bukan sekadar simbol prestasi, melainkan tanggung jawab untuk menjadi representasi budaya Banten.
“Putri Budaya Banten 2026 bagi saya bukan sekadar sebuah pencapaian atau selempang, tetapi amanah besar untuk menjadi wajah dan suara budaya Banten. Saya ingin ikut melestarikan, memperkenalkan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya kepada generasi muda,” ujar Aqilah.
Putri dari pasangan Ade Sasmita dan Ari Kusumodewi itu mengaku momen paling mengharukan selama mengikuti ajang Putri Budaya Banten terjadi saat namanya diumumkan sebagai pemenang.
“Di momen itu saya menyadari bahwa seluruh proses, doa, dan perjuangan yang saya lakukan benar-benar dihargai,” katanya kepada media, Selasa 21 Juli 2026.
Bentuk Komunitas Budaya
Selama mengemban tugas sebagai Putri Budaya Banten 2026, Aqilah telah menyiapkan program prioritas berupa pembentukan komunitas budaya yang aktif sebagai ruang kolaborasi bagi generasi muda di Banten.
Menurutnya, komunitas tersebut akan menjadi wadah bagi anak muda untuk berkarya sekaligus memperkenalkan budaya melalui pendekatan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Saya ingin menghadirkan ruang yang mendorong generasi muda untuk berinovasi dalam mengemas budaya tanpa meninggalkan nilai-nilai integritas. Budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga terus berkembang agar tetap relevan,” tuturnya.
Budaya Harus Menjadi Gaya Hidup Anak Muda
Aqilah meyakini pelestarian budaya akan lebih efektif apabila generasi muda dilibatkan secara langsung dalam berbagai aktivitas kreatif.
Melalui komunitas yang dibentuk, para anggota tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku dalam berbagai kegiatan seni, budaya, hingga kolaborasi lintas bidang.
“Dengan pendekatan seperti ini, budaya akan terasa lebih dekat, modern, dan menjadi bagian dari gaya hidup generasi Z maupun Alpha. Dari situ akan tumbuh rasa bangga terhadap identitas daerah,” ujarnya.
Debus hingga Budaya Baduy Layak Mendunia
Menurut Aqilah, Banten memiliki kekayaan budaya yang sangat kuat untuk diperkenalkan di tingkat nasional maupun internasional.
Ia menyebut kesenian debus, pencak silat, hingga budaya masyarakat Baduy sebagai warisan yang sarat nilai filosofis dan kearifan lokal.
“Budaya tersebut bukan hanya menunjukkan seni, tetapi juga menggambarkan karakter, nilai kehidupan, dan identitas masyarakat Banten yang khas. Ini menjadi potensi besar untuk dikenal dunia,” katanya.
Modernisasi Bukan Ancaman
Di tengah derasnya arus modernisasi, Aqilah mengajak masyarakat Banten untuk tidak hanya menjadi penikmat budaya, tetapi ikut terlibat aktif dalam upaya pelestariannya.
Menurutnya, perkembangan teknologi justru dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperluas promosi budaya kepada masyarakat yang lebih luas.
“Modernisasi bukan ancaman, tetapi peluang untuk memperkenalkan budaya dengan cara yang lebih kreatif. Mari bersama menjaga budaya kita, karena budaya adalah identitas. Tanpa identitas, kita kehilangan jati diri,” ungkapnya.
Budaya Kota Tangerang Perlu Dikemas Lebih Kreatif
Secara khusus, Aqilah menilai Kota Tangerang memiliki potensi budaya yang besar, mulai dari keberagaman tradisi, kuliner, hingga sejarah yang layak diangkat ke tingkat nasional.
Namun, menurutnya, potensi tersebut perlu didukung dengan pengemasan yang lebih menarik melalui penyelenggaraan berbagai event kreatif, digitalisasi, dan kolaborasi bersama generasi muda.
“Dengan pengembangan yang tepat, budaya Kota Tangerang tidak hanya akan tetap lestari, tetapi juga mampu bersaing dan dikenal di tingkat nasional maupun internasional,” tutupnya.









