Skill yang Banyak Dicari Perusahaan di Banten, Bukan Cuma Gelar

Skill yang Banyak Dicari Perusahaan di Banten, Bukan Cuma Gelar
Skill yang Banyak Dicari Perusahaan di Banten, Bukan Cuma Gelar Foto oleh olia danilevich:

SERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Di balik statusnya sebagai salah satu motor industri terbesar Indonesia, Banten tengah menghadapi paradoks ketenagakerjaan. Provinsi yang menjadi rumah bagi ratusan pabrik tekstil, kimia, hingga baja ini di satu sisi terus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, namun di sisi lain juga mencatat kenaikan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang paruh pertama 2026.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Banten, Septo Kalnadi, membantah anggapan bahwa lonjakan PHK dipicu oleh kenaikan upah minimum. Ia menyebut faktor penyebabnya lebih kompleks, mulai dari penurunan permintaan pasar, gangguan operasional seperti kebakaran pabrik, hingga efisiensi internal perusahaan. Meski begitu, Disnakertrans mengklaim belum ada indikasi gelombang PHK besar-besaran di sektor industri padat karya yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja Banten.

Bacaan Lainnya

Kondisi inilah yang membuat pertanyaan “skill apa yang sebenarnya dicari perusahaan di Banten saat ini” menjadi semakin relevan. Di tengah ketidakpastian pasar kerja, kompetensi yang tepat sasaran menjadi pembeda antara pekerja yang bertahan dan yang tersisih.

Bukan Sekadar Ijazah

Dari penelusuran di sejumlah kawasan industri Banten — mulai dari Kawasan Modern Cikande dan Jawilan di Kabupaten Serang, hingga sentra industri di Kabupaten Tangerang — pola kebutuhan tenaga kerja mulai bergeser. Lowongan yang banyak beredar di platform pencari kerja untuk wilayah ini didominasi posisi operator produksi, staf quality assurance, staf PPIC (Production Planning and Inventory Control), hingga tenaga ahli kimia dan operator mesin, mencerminkan karakter Banten sebagai basis manufaktur, kimia, dan tekstil nasional.

Namun perusahaan-perusahaan itu kini tidak lagi sekadar mencari tenaga kerja yang bisa mengoperasikan mesin. Sertifikasi kompetensi, pemahaman prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), serta kemampuan menyesuaikan diri dengan standar mutu industri modern — termasuk industri kosmetik dan makanan olahan yang belakangan tumbuh di kawasan Cikande — menjadi syarat yang makin sering muncul dalam iklan lowongan kerja.

Pemerintah Turun Tangan lewat Pelatihan Vokasi

Menjawab pergeseran ini, Disnakertrans Banten menggencarkan program pelatihan kerja (Latker) di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Latihan Kerja sepanjang 2026. Pada gelombang pertama yang dimulai 1 Juli 2026, sebanyak 192 peserta mengikuti pelatihan dari total kuota sekitar 600 orang yang dianggarkan melalui APBD Provinsi Banten untuk tahun ini — jumlah yang belum termasuk program kabupaten/kota maupun pusat.

Gelombang kedua menyusul pada Agustus 2026 dengan 192 peserta lain yang tersebar di 12 bidang kejuruan. Di tingkat kabupaten, Disnakertrans Kabupaten Serang bahkan menggandeng Politeknik Penerbangan Indonesia Curug untuk menggelar pelatihan langsung di lokasi pabrik, PT Indonesia Nippon Seiki di Kawasan Modern Cikande, dengan tiga bidang utama: K3, teknik perawatan AC, serta keramahtamahan dan komunikasi efektif. Peserta yang lulus diarahkan mengikuti uji sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), sebuah pengakuan formal yang makin sering dijadikan syarat rekrutmen oleh perusahaan di kawasan industri.

Pola ini menunjukkan arah yang jelas: pemerintah daerah Banten berusaha menjembatani kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki pencari kerja dan kebutuhan riil dunia usaha, alih-alih hanya mengandalkan jalur pendidikan formal.

Skill Digital Ikut Merambah Kawasan Industri

Pergeseran tak hanya terjadi di lini manufaktur. Di kawasan BSD City, Tangerang Selatan, yang kerap disebut-sebut berpotensi menjadi pusat talenta teknologi, kebutuhan akan kompetensi digital ikut tumbuh. Kehadiran kampus pelatihan coding di kawasan tersebut mencerminkan permintaan yang tinggi terhadap talenta IT dari wilayah Tangerang dan sekitarnya.

Secara nasional, kesenjangan ini tergambar jelas: Indonesia diperkirakan masih membutuhkan puluhan juta tenaga kerja digital untuk mendukung target Indonesia Emas 2045, sementara ekonomi digital nasional diproyeksikan tumbuh berkali-kali lipat hingga 2030. Laporan World Economic Forum turut memproyeksikan kecerdasan buatan (AI) dan analisis data sebagai kompetensi yang paling dibutuhkan di masa depan — tren yang mulai terasa hingga ke perusahaan-perusahaan berbasis teknologi di kawasan Tangerang Raya, bukan cuma di Jakarta.

Kombinasi yang Dicari: Teknis, Digital, dan “Manusiawi”

Merangkum tren di lapangan, setidaknya ada tiga lapis kompetensi yang membuat pencari kerja di Banten lebih kompetitif tahun ini:

  • Skill teknis-vokasional tersertifikasi: penguasaan alat produksi, kontrol mutu, K3, hingga sertifikasi BNSP, khususnya untuk sektor manufaktur, kimia, dan tekstil yang mendominasi lapangan kerja Banten.
  • Literasi digital dasar hingga menengah: kemampuan membaca data, memakai perangkat lunak produktivitas, dan memahami sistem otomatisasi, yang kini merambah bahkan ke lini produksi konvensional.
  • Soft skill dan daya adaptasi: komunikasi efektif, kerja tim lintas divisi, serta kesiapan menghadapi perubahan proses kerja — kompetensi yang justru makin dicari di tengah ketidakpastian ekonomi dan ancaman efisiensi perusahaan.

Kombinasi ketiganya bukan kebetulan. Di tengah tekanan PHK yang oleh Disnakertrans Banten disebut lebih banyak dipicu efisiensi internal perusahaan ketimbang faktor upah, pekerja dengan keterampilan yang mudah diverifikasi lewat sertifikasi — sekaligus fleksibel mengikuti perubahan lini produksi — punya posisi tawar yang lebih kuat.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.