Mengapa Banten Rawan Gempa Bumi? Ini Penjelasan BMKG soal Megathrust Selat Sunda

Mengapa Banten Rawan Gempa Bumi? Ini Penjelasan BMKG soal Megathrust Selat Sunda
Mengapa Banten Rawan Gempa Bumi? Ini Penjelasan BMKG soal Megathrust Selat Sunda

PANDEGLANG, LENSABANTEN.CO.ID — Wilayah Provinsi Banten kembali menjadi sorotan setelah rentetan gempa bumi terus mengguncang kawasan ini dalam beberapa tahun terakhir. Dari Pandeglang, Bayah, hingga Ujung Kulon, getaran gempa hampir menjadi “langganan” bagi warga Banten. Lantas, apa sebenarnya yang membuat provinsi ini begitu rawan gempa?

Berada di Titik Temu Zona Subduksi dan Sesar Aktif

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Banten kerap dilanda gempa bumi berskala tak kecil karena letaknya yang dekat dengan lempeng di Samudra Hindia. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa setidaknya terdapat beberapa sumber ancaman gempa dan tsunami di kawasan ini, yakni zona Sesar Mentawai, Sesar Semangko, dan Sesar Ujung Kulon yang berstatus rawan gempa bumi dan tsunami, ditambah zona Graben Selat Sunda yang rawan longsor dasar laut, serta Gunung Anak Krakatau yang berpotensi memicu tsunami saat erupsi.

Bacaan Lainnya

Tak hanya itu, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, juga pernah mengungkap bahwa sejumlah gempa yang mengguncang Banten dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut. Salah satu contohnya adalah gempa bermagnitudo 5,4 yang mengguncang Banten pada Mei 2023, yang menurut Daryono berasal dari sesar aktif dangkal, bukan gempa megathrust.

Ancaman Megathrust Selat Sunda Magnitudo 8,7

Selain sesar aktif, ancaman terbesar bagi Banten datang dari zona megathrust Selat Sunda. Berdasarkan pemodelan BMKG, jika gempa terjadi di zona ini, potensi kekuatannya dapat mencapai magnitudo 8,7, dengan Kota Cilegon diperkirakan akan merasakan guncangan pada intensitas VI-VII MMI yang bisa menimbulkan kerusakan ringan hingga berat.

Peneliti dari Universitas Pertahanan bersama BMKG juga mencatat bahwa setidaknya ada 15 kecamatan di Banten yang terancam megathrust dan tsunami Selat Sunda, sehingga penguatan literasi mitigasi bencana dinilai mendesak dilakukan. Ancaman ini semakin nyata mengingat, menurut Daryono, selama ratusan tahun belum pernah terjadi gempa besar di segmen megathrust Selat Sunda, sehingga energi yang tersimpan berpotensi lepas sewaktu-waktu.

Ia menambahkan bahwa zona ini berada di antara dua lokasi gempa besar yang pernah merusak dan memicu tsunami, yaitu gempa Pangandaran bermagnitudo 7,7 pada 2006 dan gempa Bengkulu bermagnitudo 8,5 pada 2007.

Kondisi Tanah Perkuat Efek Guncangan

Faktor lain yang membuat dampak gempa di Banten terasa lebih parah adalah kondisi geologi permukaan. Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan bahwa endapan Kuarter dan Tersier di sekitar pusat gempa umumnya bersifat lepas dan belum kompak, sehingga memperkuat efek guncangan saat gempa terjadi.

Kondisi ini menjelaskan mengapa gempa dengan magnitudo relatif sedang pun kerap menyebabkan kerusakan bangunan di Banten, bahkan getarannya bisa dirasakan hingga ke Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Jawa Tengah.

Bukan untuk Ditakuti, tapi Diwaspadai

Menyikapi berbagai ancaman ini, Kepala Pelaksana BPBD Banten, Nana Suryan, mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Ia menegaskan bahwa informasi potensi megathrust yang dikeluarkan BMKG bersifat potensi, bukan prediksi maupun peringatan dini.

Sementara itu, BMKG terus mendorong pemerintah daerah memperkuat mitigasi, mulai dari penerapan aturan bangunan tahan gempa hingga edukasi kebencanaan bagi masyarakat pesisir. Sebab, seperti dikatakan Daryono, gempa besar dan tsunami merupakan proses alam yang tidak bisa dihentikan maupun diprediksi waktunya — yang bisa dilakukan hanyalah mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.