Dari Tangerang untuk Dunia, Repramary Bawa Ecoprint Tembus Malaysia hingga Eropa

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Siapa sangka, sejenis gulma yang terbawa peti kemas dari Amerika Serikat justru menjadi kunci pembeda produk kain ecoprint Repramary asal Tangerang, Banten, di tengah gempuran pemain sejenis dari berbagai daerah di Indonesia.

Tanaman bernama Parthenium itu kini menjadi “senjata rahasia” bagi Nuning Sekarningrum, praktisi sekaligus pemilik brand ecoprint yang produknya telah dititipjualkan hingga ke Malaysia, China, Meksiko, dan Belanda.

Bacaan Lainnya

Ecoprint sendiri merupakan teknik menata dan mencetak motif daun langsung di atas selembar kain menggunakan bahan-bahan berbasis alam.

Berbeda dari batik, ecoprint belum tergolong sebagai wastra, namun tetap diklaim mengangkat kearifan lokal karena mengandalkan tumbuhan khas di masing-masing daerah, seperti daun jati atau jarak kepyar yang hampir merata tumbuh di seluruh Indonesia.

Menurut Nuning, hampir semua pelaku ecoprint di Tanah Air memiliki bahan baku yang serupa. Yang membedakan produknya adalah keberadaan Parthenium, gulma yang menurutnya hanya tumbuh di wilayah Tangerang setelah terbawa masuk melalui jalur pengiriman peti kemas dari Amerika.

“Perbedaan antara ecoprint kami dengan yang lain adalah dari tanaman itu sendiri,” ujarnya kepada Lensabanten, Rabu 23 September 2026.

Strategi Pemasaran: Pameran, Pelatihan, hingga Gerai Titip Jual

Dari galerinya, Nuning mengaku produksi kain ecoprint berjalan hampir setiap hari. Namun ia tak menampik bahwa mencari segmen pasar yang tepat masih menjadi proses pembelajaran berkelanjutan.

“Sejauh ini kami memang sambil belajar, terus mencari ke mana sasaran ecoprint ini akan dikemanakan,” katanya.

Untuk menjangkau konsumen, strategi yang dijalankan pun beragam: mengikuti pameran, membuka stan, menjalankan beberapa gerai butik, hingga memberikan pelatihan pembuatan ecoprint kepada masyarakat. Pendekatan multikanal ini yang membuat produknya cukup dikenal, meski belum melakukan ekspor dalam skala besar secara resmi.

Merambah Pasar Luar Negeri lewat Titip Jual dan Pameran

Meski belum menjalankan ekspor formal berskala besar, produk ecoprint Nuning sempat rutin dikirim ke Malaysia selama dua hingga tiga tahun. Produknya juga turut dibawa dalam berbagai pameran internasional di China, Meksiko, dan Belanda — sebuah jejak yang menurutnya sudah bisa dikategorikan sebagai bentuk perpindahan jual beli antarnegara, meski dalam skala terbatas.

Dari Tangerang untuk Dunia, Repramary Bawa Ecoprint Tembus Malaysia hingga Eropa
Dari Tangerang untuk Dunia, Repramary Bawa Ecoprint Tembus Malaysia hingga Eropa

Kisaran Harga: Dari Ratusan Ribu hingga Dua Juta Rupiah

Soal banderol harga, kain ecoprint berbahan sutra alam maupun sutra hewani seperti halar dan bembek dibanderol Rp1,5 juta–Rp2 juta per lembar untuk ukuran 150×200 cm.

Sementara kain berbahan katun atau linen dipatok lebih terjangkau, yakni sekitar Rp600 ribu–Rp800 ribu. Harga produk jadi diklaim tidak berbeda jauh dari harga kain mentahnya.

Bisa Ditemukan di Mana Saja?

Bagi yang tertarik, produk ecoprint besutan Nuning dapat ditelusuri melalui pencarian daring atau langsung mengunjungi sejumlah gerai fisik, di antaranya:
– Galeri 37, Tangerang Selatan
– Gerai Pesona Nusantara di Golden Tulip
– Loman, Yogyakarta
– Transmart TSM, Cibubur

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.