Komunitas Muslim di Indonesia Jadi Garda Terdepan Pelestarian Lingkungan

Komunitas Muslim di Indonesia Jadi Garda Terdepan Pelestarian Lingkungan
Komunitas Muslim di Indonesia Jadi Garda Terdepan Pelestarian Lingkungan

JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin mendesak, secercah harapan muncul dari akar rumput Indonesia. Komunitas Muslim lokal, dengan berbekal nilai-nilai keagamaan dan kemandirian, menunjukkan peran signifikan dalam pelestarian lingkungan.

Mereka mengembangkan inovasi-inovasi sederhana namun berdampak besar, mulai dari pengelolaan sampah organik hingga konservasi hutan dan sungai.

Bacaan Lainnya

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, melalui riset terbarunya bertajuk “Inovasi Lingkungan Muslim Indonesia: Bagaimana Komunitas Lokal Berdaya?”, mengungkap praktik-praktik inspiratif ini.

Riset ini merupakan bagian dari proyek REACT (Religious Environmentalism Actions) yang meneliti dan mendorong aksi-aksi lingkungan berbasis agama, khususnya Islam.

Kekuatan Gotong Royong dan Nilai Agama


Penelitian yang dilakukan di tujuh provinsi dengan melibatkan 16 komunitas Muslim di tingkat desa ini menemukan bahwa kunci keberhasilan inovasi lingkungan terletak pada tiga faktor utama: partisipasi aktif warga, keterlibatan institusi agama, dan peran inisiator lokal.

“Komunitas Muslim lokal mengembangkan inovasi sederhana namun berdampak, seperti mengubah sampah menjadi pupuk kompos, memanfaatkan wakaf untuk penghijauan, hingga mengelola ekowisata berbasis nilai agama. Praktik ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah,” jelas Testriono, Koordinator Riset PPIM UIN Jakarta.

Fenomena “Green Islam” menjadi bukti bahwa nilai-nilai keislaman dapat menjadi motor penggerak aksi keberlanjutan. Pesan-pesan lingkungan yang disampaikan melalui mimbar masjid atau fatwa ulama ternyata sangat efektif mendorong umat untuk bertindak.

Ecopreneurs Muda: Kolaborasi Lingkungan dan Ekonomi

Tak hanya itu, riset ini juga menemukan tren munculnya ecopreneurs muda, yaitu wirausahawan hijau yang menggabungkan isu lingkungan dan ekonomi. Mereka menciptakan inisiatif-inisiatif kreatif seperti pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi atau pengembangan ekowisata berbasis komunitas.

“Gerakan berbasis komunitas memiliki keterbatasan skala. Perlu replikasi inovasi ini secara lebih sistematis, didukung kebijakan yang memadai,” kata Prof. Dr. Suharko, Guru Besar Sosiologi UGM, mengingatkan pentingnya dukungan kebijakan untuk keberlanjutan gerakan ini.

Rekomendasi untuk Aksi Lebih Lanjut

PPIM UIN Jakarta memberikan beberapa rekomendasi strategis untuk mendukung inovasi lingkungan berbasis komunitas, antara lain:

Penguatan kapasitas inisiator lokal melalui pelatihan inovasi lingkungan.
Festival inovasi lingkungan oleh KLHK untuk mempromosikan praktik terbaik komunitas Muslim.

Optimalisasi zakat dan wakaf untuk pendanaan proyek lingkungan berkelanjutan.

Sinergi untuk Indonesia Hijau
Peluncuran riset ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk akademisi, aktivis, dan pembuat kebijakan.

Mereka sepakat bahwa temuan PPIM ini sangat penting sebagai dasar kebijakan nasional. Inovasi lokal memiliki daya tahan tinggi karena tidak bergantung pada dinamika politik.

“Nilai agama adalah kekuatan besar untuk menggerakkan kesadaran lingkungan. Kolaborasi antar-kelompok agama perlu diperkuat,” ujar Hening Parlan, Direktur GreenFaith Indonesia.

Riset ini diharapkan menjadi peta jalan bagi pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam mendukung inovasi lingkungan berbasis komunitas.

Dengan sinergi dan kolaborasi, Indonesia bisa menjadi contoh bagi dunia dalam upaya pelestarian lingkungan yang berlandaskan nilai-nilai agama dan kearifan lokal. (san/*) #foto : dok. ppim uin syarif hidayatullah jakarta

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.