Karya : Finna Alifia
Pelajar : MTs Negeri 5 Tangerang
Molly bukan sekadar kucing. Ia adalah memoar kecil yang bernafas—tentang sepi, tentang bertahan, dan tentang bagaimana rasanya tetap hidup meski dunia kadang tidak memberi alasan.
Tatapannya tajam, tapi tidak buas.
Ia menatap bukan untuk menyerang, melainkan untuk mengingat.
Mata itu… seperti lembaran waktu. Hijau kusam dengan garis-garis kecil yang menyimpan rahasia hujan, bekas aroma aspal panas, dan malam-malam yang pernah ia lewati sendirian.
Di bawah hidungnya yang sedikit gelap dan terluka, tersimpan cerita yang tak pernah diceritakan.
Bekas luka kecil itu bukan aib—melainkan medali.
Pertanda bahwa Molly bukan hanya pernah jatuh,
tapi juga pernah bangkit, berjalan pelan, dan terus bertahan.
Bulu di wajahnya mungkin tidak sempurna,
tapi keheningan yang ia bawa lebih menenangkan dari segala suara.
Molly adalah sosok yang memilih diam, karena ia tahu:
di dunia ini, tidak semua luka harus diceritakan keras-keras.
Beberapa cukup disimpan di balik mata.
Ia tidak mengeong untuk meminta.
Ia tidak melompat untuk mencuri perhatian.
Jika Molly mendekat padamu, itu bukan karena ia butuh.
Itu karena ia percaya.
Dan kepercayaan dari seekor Molly—yang telah melihat dunia dalam bentuk paling gelapnya—
adalah hadiah yang bahkan manusia pun jarang bisa tawarkan.









