Monumen Pancasila Sakti: Sejarah, Fungsi, dan Fakta yang Perlu Diketahui

Monumen Pancasila Sakti Sejarah, Fungsi, dan Fakta yang Perlu Diketahui
Monumen Pancasila Sakti Sejarah, Fungsi, dan Fakta yang Perlu Diketahui

JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Kawasan Lubang Buaya di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, menyimpan salah satu situs sejarah yang paling dikenal di Indonesia. Di sinilah Monumen Pancasila Sakti berdiri sebagai pengingat kisah kelam bangsa sekaligus bentuk penghormatan bagi tujuh Pahlawan Revolusi.

Sejarah singkat Lubang Buaya

Bacaan Lainnya

Sebelum peristiwa G30S, Lubang Buaya adalah kawasan hutan karet yang sepi, lalu dipakai untuk latihan militer beberapa bulan sebelum peristiwa itu terjadi. Jenazah enam jenderal dan Pierre Tendean kemudian dibawa ke lokasi ini dan dimasukkan ke sumur tua sedalam 12 meter, yang kini disebut Sumur Maut. Menurut catatan Tribunnews, jenazah para korban ditemukan pada 4 Oktober 1965.

Dibangun sejak 1967

Pembangunan monumen dimulai pada Agustus 1967 di atas lahan seluas 14,6 hektare. Berdasarkan keterangan Pusat Sejarah TNI, Soeharto meresmikannya pada 1 Oktober 1973, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Gagasan pendiriannya datang dari Soeharto, dan monumen ini berada di bawah kepemilikan TNI serta dikelola Pusat Sejarah TNI.

Apa saja yang ada di dalamnya?

Ikon utama kompleks ini adalah tujuh patung Pahlawan Revolusi dengan latar dinding setinggi 17 meter, dilengkapi patung Garuda Pancasila. Di dalam kawasan juga terdapat:

  • Museum Pengkhianatan PKI dan Museum Paseban. Paseban diresmikan pada 1 Oktober 1981.
  • 34 diorama tiga dimensi, pakaian asli tujuh Pahlawan Revolusi, serta sejumlah kendaraan bersejarah.
  • Ruang teater yang memutar film dokumenter peristiwa G30S berdurasi sekitar 30 menit.
  • Bangunan-bangunan lama yang dilestarikan, seperti “Rumah Penyiksaan”.

Fungsi monumen

Monumen ini berfungsi sebagai simbol peringatan dan penghormatan kepada para Pahlawan Revolusi, sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda agar memahami sejarah bangsa. Setiap 1 Oktober, upacara Hari Kesaktian Pancasila digelar di lokasi ini. Menurut Pusat Sejarah TNI, tradisi peringatan tersebut dimulai berdasarkan Surat Keputusan Menpangad tertanggal 17 September 1966.

Catatan dari sisi akademik

Sejumlah peneliti memandang Lubang Buaya sebagai contoh bagaimana museum dan monumen membentuk ingatan kolektif atas peristiwa traumatis. Dalam entri di Springer, disebutkan bahwa rezim Orde Baru menyebarkan propaganda yang memperluas cakupan kejahatan G30S, dan kampanye itu berujung pada pembantaian 500.000 hingga 1 juta orang yang dituduh terkait PKI. Narasi sejarah di kawasan ini sebaiknya dibaca bersama sumber-sumber lain.

Info kunjungan

Monumen ini terletak di Jalan Raya Pondok Gede, Lubang Buaya. Jam buka yang dilaporkan berbeda-beda. Situs Pusat Sejarah TNI menyebut buka mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB dan tutup pada hari Senin. Sumber lain menyebut pukul 08.00 hingga 15.30 WIB. Sebelum berkunjung, sebaiknya cek informasi terbaru lewat kanal resmi pengelola, terutama menjelang Hari Kesaktian Pancasila, karena monumen dapat ditutup untuk umum pada tanggal tertentu.

Catatan untuk Anda

  • Tahun peresmian: Sumber resmi Pusat Sejarah TNI, Kompas.com (Megapolitan), dan ANTARA menyebut 1973. Satu artikel Kompas Travel menulis 1972. Naskah di atas memakai 1973.
  • Jam buka dan tarif: Datanya tidak seragam antar sumber, jadi saya tidak mencantumkan harga tiket. Verifikasi dulu ke pengelola sebelum tayang.
  • Isu sensitif: Sejarah G30S masih punya banyak perspektif. Paragraf catatan akademik saya sertakan agar naskah lebih berimbang, tapi Anda bisa menghapusnya jika tidak sesuai kebutuhan redaksi.

 

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.