Perayaan Cap Go Meh di Tangerang, Romo Ruby: Kita Ini Peranakan Tionghoa

Perayaan Cap Go Meh di Tangerang, Romo Ruby: Kita Ini Peranakan Tionghoa
Perayaan Cap Go Meh di Tangerang, Romo Ruby: Kita Ini Peranakan Tionghoa

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Perayaan Cap Go Meh di tahun “Ular” ini menjadi puncak dari rangkaian perayaan Imlek yang berlangsung selama 15 hari. Dalam acara Cap Go Meh yang digelar di Universitas Buddhi Dharma, Ketua Umum Perkumpulan Boen Tek Bio, Romo Ruby Santamoko, menjelaskan makna dan keunikan perayaan ini, khususnya di Tangerang.

“Jadi, memang kalau kita bicara Cap Go Meh ini merupakan puncak dari perayaan Imlek karena orang Tionghoa zaman dulu Imlek itu dirayakan selama 15 hari, dan hari ini adalah malam ke-15,” ujar Romo Ruby kepada awak media pada saat acara Cap Go Meh di Universitas Buddhi Dharma Tangerang, pada Selasa, 11 Februari 2025.

Bacaan Lainnya

Romo Ruby juga menyoroti perbedaan perayaan Cap Go Meh di berbagai daerah. Salah satu contohnya adalah di Singkawang, yang dikenal dengan perayaan besar-besaran karena masyarakatnya merupakan keturunan asli dari Tiongkok. Sementara di Tangerang, perayaan ini lebih berciri khas peranakan, menggabungkan budaya Betawi, Sunda, dan Tionghoa.

“Kami setiap malam Cap Go Meh selalu merayakannya dengan hidangan khas seperti lontong Cap Go Meh. Makanan ini berasal dari perpaduan budaya Betawi, Sunda, dan Tionghoa,” jelasnya.

Selain itu, Romo Ruby juga mengungkapkan tradisi yang kerap dilakukan oleh masyarakat Tionghoa saat malam Cap Go Meh, yaitu memotong dan menggoreng kue Cina atau dodol Tionghoa dengan bumbu khas. Tradisi ini menjadi momen kebersamaan keluarga dalam merayakan hari terakhir Imlek.

“Biasanya, orang Tionghoa malam Cap Go Meh itu potong kue Cina atau dodol Cina, lalu digoreng dengan bumbu. Saat berkumpul bersama keluarga di malam terakhir ini, mereka makan bersama. Ini adalah puncak dari perayaan Imlek,” tuturnya.

Lebih lanjut, Romo Ruby menegaskan bahwa setelah perayaan Cap Go Meh, masyarakat diharapkan kembali ke rutinitas sehari-hari dengan semangat baru. Ia juga menyinggung filosofi tahun ular dalam penanggalan Tionghoa, yang melambangkan perubahan menuju kebaikan.

“Puncak perayaan Imlek itu adalah Cap Go Meh. Harapannya, setelah ini kita kembali ke habitat masing-masing, liburan sudah selesai, rangkaian Imlek sudah selesai. Tahun ular itu simbol perubahan yang baik setiap 30-40 hari, tentu yang diharapkan adalah hal-hal baik, memperbanyak ibadah, dan menghargai sesama,” pungkasnya.

Perayaan Cap Go Meh di Tangerang tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga momentum untuk mempererat kebersamaan antar masyarakat lintas budaya.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.