KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang menggelar pelatihan literasi digital bagi penyandang disabilitas dengan materi pemanfaatan mesin pencari dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kota Tangerang, Banten, Kamis, 4 Juni 2026.
Kegiatan tersebut merupakan upaya meningkatkan keterlibatan kelompok disabilitas dalam perkembangan teknologi digital yang terus berkembang.
Kepala Diskominfo Kota Tangerang, Mugiya Wardhani, mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Tangerang untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses dan memanfaatkan teknologi.
“Pelatihan ini kami selenggarakan agar teman-teman disabilitas juga dapat berpartisipasi dan mengambil bagian dalam perkembangan teknologi yang ada saat ini, khususnya terkait pemanfaatan mesin pencari dan kecerdasan artifisial,” katanya.
Kegiatan tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Komunikasi dan Digital serta Dewan Nasional Kesejahteraan Sosial (DNKS). Sejumlah narasumber dari kalangan pegiat literasi digital dan komunitas disabilitas turut dilibatkan dalam pelatihan tersebut.
Selain meningkatkan kemampuan digital peserta, kegiatan itu juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan aplikasi LAKSA+, layanan pengaduan dan aspirasi milik Pemerintah Kota Tangerang yang telah dirancang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
Menurut Mugiya, aplikasi tersebut diharapkan dapat menjadi sarana bagi penyandang disabilitas untuk menyampaikan kritik, saran, maupun aspirasi kepada pemerintah daerah tanpa hambatan aksesibilitas.
“Kami ingin memastikan tidak ada warga yang tertinggal. Melalui LAKSA+, teman-teman disabilitas juga dapat menyampaikan aspirasi dan kebutuhan mereka secara lebih mudah,” ujarnya.
Ia menambahkan, peningkatan literasi digital masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Tangerang. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan sebelumnya, indeks literasi digital masyarakat Kota Tangerang mengalami penurunan sehingga diperlukan berbagai program edukasi yang menjangkau seluruh kelompok masyarakat.
“Kegiatan ini kami harapkan dapat meningkatkan pemahaman literasi digital, khususnya bagi penyandang disabilitas, sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi digital warga Kota Tangerang secara umum,” katanya.
Sementara itu, salah satu peserta pelatihan, Aziz, mengapresiasi kehadiran aplikasi LAKSA+ yang dinilainya telah memenuhi kebutuhan aksesibilitas bagi penyandang tunanetra.
Menurut dia, tidak semua aplikasi layanan pemerintah dapat diakses dengan baik menggunakan pembaca layar yang biasa digunakan oleh tunanetra. Namun, fitur-fitur pada LAKSA+ dinilai sudah kompatibel dan mudah digunakan.
“LAKSA+ sangat bermanfaat untuk disabilitas, khususnya tunanetra. Tidak semua aplikasi pemerintah itu aksesibel. Alhamdulillah LAKSA+ bisa dibaca seluruhnya dengan pembaca layar,” ujarnya.
Aziz mengaku telah beberapa kali memanfaatkan aplikasi tersebut untuk menyampaikan pengaduan terkait layanan transportasi publik dan fasilitas yang belum ramah disabilitas.
Ia pernah mengusulkan agar layanan bus Tayo dilengkapi informasi suara otomatis di setiap halte untuk membantu penyandang tunanetra mengetahui lokasi pemberhentian. Selain itu, ia juga menyampaikan masukan mengenai fasilitas halte yang dinilai masih perlu ditingkatkan, termasuk akses kursi roda dan penyediaan tempat duduk khusus bagi penyandang disabilitas.
Menurut Aziz, keberadaan aplikasi yang mudah diakses menjadi sarana penting bagi penyandang disabilitas untuk menyampaikan kebutuhan mereka secara langsung kepada pemerintah sehingga pelayanan publik dapat semakin inklusif.









