KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID– Ritual memandikan perahu naga dan perahu papak menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian perayaan Pehcun dan Twan Yang 2577 BE/2026 yang digelar Perkumpulan Boen Tek Bio. Kegiatan tersebut berlangsung di Pendopo Pehcun, Karawaci, Kota Tangerang, pada Kamis, 18 Juni 2026 pukul 23.00 WIB.
Ketua Umum Perkumpulan Boen Tek Bio, Ruby Santamoko, mengatakan malam itu merupakan puncak perayaan Pehcun tahun 2026. Berbagai kegiatan budaya, hiburan, dan ritual keagamaan telah digelar sejak beberapa hari sebelumnya untuk menyemarakkan perayaan.
“Ini adalah puncak malam Pehcun tahun 2026 dalam rangkaian kegiatan Perkumpulan Boen Tek Bio. Kami menyambutnya dengan penuh sukacita bersama masyarakat Kota Tangerang,” ujar Ruby Santamoko saat ditemui Lensa Banten.
Puncak Rangkaian Pehcun 2026
Ruby menjelaskan rangkaian acara tahun ini tidak hanya berisi ritual tradisi, tetapi juga hiburan yang melibatkan masyarakat luas. Salah satunya melalui berbagai kegiatan yang bertujuan memberikan ruang kebersamaan dan hiburan bagi warga.
“Kegiatan yang kami lakukan semata-mata untuk meningkatkan antusiasme masyarakat Kota Tangerang agar bisa menikmati kemeriahan perayaan Pehcun,” katanya.
Selain hiburan, sejumlah ritual keagamaan juga dilaksanakan sejak pagi hingga malam hari. Prosesi tersebut diawali dengan sembahyang menurut tradisi Buddha Theravada, dilanjutkan dengan ritual Mahayana, hingga ditutup dengan sembahyang Pehcun Ong Cun.
“Tadi ada beberapa ritual sembahyang yang dilaksanakan sejak pagi hingga malam. Seluruh rangkaian itu menjadi bagian penting dari tradisi Pehcun yang kami jalankan setiap tahun,” jelasnya.
Filosofi Air Berkah dalam Tradisi Pehcun
Menurut Ruby, perayaan Pehcun memiliki makna filosofis yang erat kaitannya dengan pembersihan diri dan harapan akan keberkahan. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, tanggal lima bulan lima dipercaya sebagai momen yang baik untuk memohon kesehatan dan keselamatan.
“Orang Tionghoa percaya tanggal lima bulan lima adalah waktu pembersihan. Air pada momen ini dipercaya membawa berkah dan menjadi simbol kesehatan serta keberuntungan,” ungkap Ruby.
Kepercayaan tersebut masih dipegang oleh sebagian masyarakat hingga saat ini. Bahkan, air yang digunakan dalam rangkaian ritual Pehcun diyakini memiliki makna spiritual bagi mereka yang mempercayainya.
Prosesi Memandikan Perahu Berusia Seabad
Dalam ritual yang berlangsung menjelang tengah malam itu, dua perahu naga dan perahu papak dimandikan sebagai bagian dari tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Salah satu perahu yang digunakan bahkan telah berusia lebih dari 100 tahun.
“Kami membersihkan perahu yang usianya sudah lebih dari seratus tahun. Setelah itu umat ikut serta dalam prosesi dan saling memercikkan air sebagai simbol berbagi keberkahan,” tuturnya.
Suasana kebersamaan terlihat saat peserta ritual saling membasahi satu sama lain. Tradisi tersebut menjadi simbol persaudaraan sekaligus harapan agar keberkahan dapat dirasakan bersama.
Antusiasme Warga Sangat Tinggi
Perayaan Pehcun tahun ini mendapat sambutan besar dari masyarakat Kota Tangerang. Tingginya jumlah pengunjung bahkan sempat menyebabkan kepadatan kendaraan di sekitar lokasi kegiatan.
“Laporan dari panitia menunjukkan jumlah peserta sangat luar biasa. Tadi sempat terjadi kemacetan, tetapi sekarang sudah mulai mencair dan kami memperkirakan besok akan lebih ramai lagi,” kata Ruby.
Ruby berharap pelaksanaan Pehcun di masa mendatang dapat dipersiapkan lebih baik lagi. Dengan persiapan yang lebih matang, berbagai atraksi budaya dan tradisi diharapkan dapat semakin menarik minat masyarakat.
“Saya berharap tahun depan kami bisa lebih siap dalam menyiapkan segala sesuatunya sehingga lebih banyak perahu dan atraksi budaya yang dapat menghibur masyarakat Kota Tangerang,” pungkasnya.










