KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Produk usaha kecil menengah (UKM) asal Kota Tangerang mencuri perhatian negara Amerika Selatan, Ekuador. Malaika Creatio, UKM yang mengangkat pelestarian warisan budaya Nusantara lewat karya kriya, diundang langsung oleh Kedutaan Besar Ekuador untuk bertemu di kantor kedutaan di Jakarta, Jumat 30 Oktober 2026 kemarin.
Pemilik merek Malaika Creatio, Malaika, menuturkan bahwa undangan tersebut merupakan kehormatan sekaligus langkah awal membangun kerja sama budaya dan peluang pasar internasional.
Bermula dari Pameran Budaya di UI
Menurut Malaika, pertemuan ini berawal dari acara International Cultural Exhibition (ICE) 2026 yang diselenggarakan LBI FIB Universitas Indonesia pada 24 Oktober 2026. Dalam acara itu, Duta Besar Ekuador untuk Indonesia, Luis Arellano Jibaja, hadir sebagai narasumber untuk memperkenalkan kekayaan budaya, adat istiadat, dan tradisi masyarakat Ekuador.
Paparan sang dubes membuat Malaika Creatio tertarik mendalami budaya Ekuador. Malaika melihat ada benang merah antara tradisi Ekuador dan semangat pelestarian warisan budaya Nusantara yang selama ini diusung usahanya.
“Kami melihat ada potensi dialog budaya yang sangat indah antara tradisi Ekuador dengan semangat pelestarian warisan budaya Nusantara,” ujarnya.
Ketertarikan dan semangat saling bertukar perspektif itu membuka ruang diskusi, hingga Malaika Creatio akhirnya menerima undangan berkunjung ke Kedutaan Besar Ekuador.
Malaika menegaskan, pertemuan di kedutaan tersebut merupakan pertemuan resmi perdana secara langsung setelah interaksi awal di pameran. Menurutnya, kehadiran itu menjadi langkah berharga dalam membangun silaturahmi, kolaborasi, dan diplomasi budaya antarbangsa.
Aya Uma dan Hudoq: Dua Budaya, Satu Filosofi
Dalam pertemuan dengan yang disebut hangat dan penuh inspirasi itu, Duta Besar Ekuador untuk Indonesia, Luis Arellano Jibaja banyak berbagi tentang warisan budaya dan filosofi tradisi masyarakat Ekuador. Salah satu momen paling berkesan adalah ketika kedua pihak menemukan kemiripan filosofi antarnegara.
Mereka saling bertukar cerita tentang Aya Uma, figur ikonik masyarakat adat Suku Kichwa di Ekuador yang melambangkan dualitas kehidupan dan keseimbangan alam, serta Hudoq, tarian ritual sakral bertopeng Suku Dayak di Kalimantan yang mengungkapkan rasa syukur dan perlindungan leluhur atas kesuburan alam.
“Meskipun terpisah jarak geografis yang jauh, Indonesia dan Ekuador memiliki kedekatan pandangan yang sangat luhur dalam menghormati alam dan warisan leluhur,” tutur Malaika.

Tumbler Bambu Ukiran Laser Jadi Cenderamata
Sebagai simbol perjumpaan budaya, Malaika Creatio mempersembahkan tumbler bambu hasil kriya tangan kepada pihak kedutaan. Tumbler ramah lingkungan itu didesain khusus dengan ukiran laser .
“Tumbler ramah lingkungan ini didesain khusus dengan ukiran laser yang menceritakan perpaduan kebudayaan kedua negara—menampilkan narasi visual antara Aya Uma dari Suku Kichwa Ekuador dan Hudoq dari Suku Dayak Kalimantan.”
Hadiah dan konsepnya disambut dengan kekaguman oleh pihak Kedutaan Besar Ekuador. Sambutan itu sekaligus membuka sinyal positif untuk penjajakan kerja sama dan pertukaran produk di masa mendatang.
Ekuador Tertarik Beli Tumbler Bercerita Budaya
Tak hanya apresiasi, pihak Ekuador juga menyatakan ketertarikan untuk membeli produk tumbler bambu tersebut. Produk yang diminati adalah tumbler dengan konsep storytelling tentang budaya dan tradisi Ekuador yang dituangkan dalam bahasa Spanyol.
Ketertarikan ini menjadi peluang bagi UKM asal Kota Tangerang untuk menembus pasar internasional melalui produk kriya berbasis budaya dan ramah lingkungan.









