AS Serang Infrastruktur Sipil, Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah

serangan Amerika Serikat terhadap infrastruktur sipil, termasuk jembatan di Karaj, menunjukkan kekalahan dan kehancuran moral Washington

LENSABANTEN.CO.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam serangan Amerika Serikat yang menyasar infrastruktur sipil di negaranya, termasuk jembatan di Karaj. Ia menilai aksi tersebut mencerminkan kemunduran moral Washington sekaligus tidak akan mampu menggoyahkan keteguhan rakyat Iran.

Pernyataan itu disampaikan Araqchi melalui unggahan di akun X miliknya pada Kamis, 2 April 2026, menanggapi serangan udara AS yang terjadi pada hari yang sama. Menurut dia, Iran akan mampu memulihkan kerusakan fisik yang ditimbulkan, namun dampak terhadap citra global Amerika Serikat justru akan sulit diperbaiki.

Bacaan Lainnya

“Menyerang struktur sipil, termasuk jembatan yang belum selesai, tidak akan memaksa rakyat Iran untuk menyerah,” kata menteri luar negeri tersebut.

“Hal itu hanya menunjukkan kekalahan dan kehancuran moral dari musuh yang sedang kacau. Setiap jembatan dan bangunan akan dibangun kembali dengan lebih kuat. Yang tidak akan pernah pulih adalah kerusakan terhadap posisi Amerika,” lanjut Araqchi.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bertanggung jawab atas penghancuran jembatan terbesar di Iran. Pernyataan itu disampaikan sehari setelah ia melontarkan ancaman akan membombardir Iran hingga “kembali ke zaman batu”.

BACA JUGA  : BPS Kota Tangerang Miliki 3 Layanan Statistik Gratis

Trump juga membagikan rekaman yang memperlihatkan runtuhnya sebagian jembatan gantung B1 setinggi 136 meter yang menghubungkan Teheran dan Karaj. Proyek senilai 400 juta dolar AS itu terlihat ambruk ke jalan di bawahnya, disertai kepulan asap hitam.

Serangan dilaporkan menghantam bagian tengah jembatan sebanyak dua kali. Dokumentasi pascaserangan menunjukkan adanya kerusakan parah berupa lubang besar di bagian inti konstruksi salah satu proyek infrastruktur utama Iran tersebut.

Di sisi lain, Amerika Serikat bersama Israel disebut melancarkan operasi militer besar terhadap Iran tanpa provokasi, menyusul terbunuhnya Pemimpin Revolusi Islam, Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat militer dan warga sipil pada 28 Februari.

Serangan tersebut mencakup pengeboman terhadap sejumlah target militer dan sipil di berbagai wilayah Iran, yang mengakibatkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur dalam skala luas.

Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan serangan ke sejumlah target milik Amerika Serikat dan Israel, termasuk pangkalan di kawasan regional. Operasi ini dilakukan melalui gelombang rudal dan drone sebagai respons atas eskalasi konflik yang terjadi.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.