KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID– Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, sebagai gerbang utama penerbangan Indonesia, masih dibayangi dua persoalan serius: banjir musiman dan gangguan keselamatan penerbangan akibat aktivitas masyarakat sekitar, mulai dari layang-layang hingga drone.
Direktur Operasi Angkasa Pura Indonesia, Agus Haryadi, menegaskan bahwa kedua masalah ini membutuhkan perhatian lintas sektor agar tidak menimbulkan risiko fatal bagi operasional bandara dan keselamatan penumpang.
Ancaman Banjir Sejak 2024
Agus mengingatkan peristiwa banjir pada 29 Desember 2024, ketika sebagian area Bandara Soetta terendam dan mengganggu aktivitas penerbangan. Menurutnya, persoalan banjir bukan hanya disebabkan faktor internal bandara, tetapi juga karena ekosistem wilayah yang semakin berubah.
“Bandara ini dibangun pada 1985, hampir 40 tahun lalu. Situasi saat itu berbeda jauh dengan kondisi 2025 sekarang. Luas kawasan bandara mencapai 2.100 hektare dengan saluran pembuangan ke Laut Jawa melalui Kali Perancis. Namun ada sekitar 12 inlet atau titik masuk air dari luar yang sudah ada sejak awal pembangunan. Seiring pertumbuhan kawasan sekitar, daerah resapan berkurang dan intensitas air makin tinggi, terutama saat musim hujan,” jelas Agus, usai Rakor dengan Gubernur Banten dan Wali Kota Tangerang dan Bupati Tangerang, Rabu, 17 September 2025.
Ia menekankan, tata kelola air di sekitar bandara harus segera dibenahi. Jika tidak dikelola secara baik, banjir berpotensi melumpuhkan operasional bandara di masa depan.
Hal ini akan berdampak langsung pada mobilitas nasional, mengingat Soetta melayani jutaan penumpang setiap tahunnya.
Gangguan Layang-Layang, Laser, dan Drone
Selain ancaman banjir, Angkasa Pura juga mencatat gangguan serius lain: layang-layang, laser, dan drone. Aktivitas ini masih ditemukan di sekitar area bandara dan berpotensi membahayakan penerbangan.
“Layang-layang adalah objek yang sangat berbahaya bagi pesawat. Walaupun laporan aduan dari masyarakat menurun saat musim hujan, tren gangguan biasanya meningkat pada musim liburan sekolah dan kemarau. Tidak bisa hanya ditangani saat masalah muncul, harus ada solusi jangka panjang,” tegas Agus.
Ia menambahkan, fenomena ini sudah dilaporkan ke Pemerintah Provinsi Banten untuk ditindaklanjuti di level kebijakan daerah. Menurutnya, operator bandara tidak bisa bekerja sendirian karena persoalan ini menyangkut kesadaran masyarakat, regulasi, serta penegakan aturan.
Perlu Kolaborasi dan Tata Kelola Baru
Masalah banjir maupun gangguan penerbangan bukan hanya isu teknis, melainkan menyangkut keselamatan publik. Agus menekankan perlunya kolaborasi antara Angkasa Pura, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta masyarakat sekitar bandara.
“Keselamatan penerbangan adalah tanggung jawab bersama. Kami berharap ke depan ada tata kelola yang lebih proper dan safe, agar Bandara Soekarno-Hatta tetap menjadi bandara kelas dunia yang andal,” pungkasnya.
Dengan posisi strategis sebagai bandara internasional tersibuk di Indonesia, penanganan banjir dan pencegahan aktivitas berbahaya seperti layang-layang, laser, dan drone, menjadi pekerjaan rumah besar yang tidak bisa ditunda. Jika tidak ditangani secara serius, dua ancaman ini bisa berujung pada lumpuhnya pintu gerbang udara nasional.









