TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Pengkajian Ramadan 1447 Hijriah yang berlangsung pada Selasa hingga Kamis, 24–26 Februari 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis”. Kota Tangerang, Banten, Kamis, 26 Februari 2026.
Founder CT Corp Chairul Tanjung hadir sebagai narasumber di Auditorium Lantai 19 Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT). Ia menyampaikan materi bertajuk Pengalaman Pengembangan Kesejahteraan Ekonomi Umat.
Dalam pemaparannya, Chairul Tanjung menyoroti kondisi umat Islam di Indonesia yang secara jumlah merupakan mayoritas, namun belum memiliki dominasi dalam penguasaan ekonomi nasional.
“Penduduk Indonesia lebih dari 280 juta orang, sekitar 85 persen adalah umat Islam. Itu berarti sekitar 13 persen dari total populasi Muslim dunia. Tapi masalahnya, kita mayoritas secara jumlah, minoritas secara penguasaan ekonomi,” ujar Chairul Tanjung.
Ia menilai tantangan tersebut semakin kompleks seiring perubahan zaman yang kini memasuki era digital. Menurutnya, aset ekonomi tidak lagi terbatas pada fisik, melainkan juga digital dan teknologi.
“Kalau dulu kita bicara aset fisik, sekarang kita bicara aset digital. Artificial Intelligence (AI) itu bukan masa depan, tapi hari ini. Anak-anak muda sekarang ingin jadi entrepreneur teknologi dan content creator. Ini peluang besar bagi umat,” katanya.
Namun demikian, Chairul Tanjung mengingatkan bahwa persoalan klasik seperti keterbatasan permodalan dan akses masih menjadi hambatan utama bagi kemandirian ekonomi umat.
“Kita punya pasar besar karena jumlah kita banyak, tapi sering hanya jadi konsumen. Kita beli produk orang lain, pakai platform orang lain, uangnya lari ke luar. Karena itu, kemandirian ekonomi itu mutlak,” tegasnya.
Ia mendorong umat Islam untuk membangun ekosistem ekonomi sendiri dengan tetap menjaga kualitas produk dan layanan agar mampu bersaing secara profesional.
“Ekonomi dari umat, oleh umat, dan untuk umat. Tapi jangan hanya karena label agama. Kualitas harus nomor satu. Kalau kualitasnya buruk, itu bukan menolong, tapi justru menghambat,” ucapnya.
Chairul Tanjung juga menekankan pentingnya kolaborasi dan penguatan jejaring antarpelaku usaha umat sebagai kunci menghadapi tantangan ekonomi ke depan.
“Kalau kita bersatu, kekuatan ekonomi kita dahsyat. Tantangannya berat, tapi peluangnya terbuka lebar. Jangan mau jadi penonton di negeri sendiri,” tutupnya.









