JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID — Universitas Multimedia Nusantara (UMN) resmi meluncurkan Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) untuk Program Pembelajaran Jarak Jauh Ilmu Komunikasi (PJJIK) dan Magister Manajemen Teknologi (MMT). Peresmian dilakukan jajaran rektorat bersama Dekan Fakultas Bisnis di Ascott Menteng, Jakarta.
Program RPL menjadi bagian dari upaya UMN memperluas akses pendidikan tinggi yang inklusif. Skema ini mengakui capaian pembelajaran dari pendidikan formal, nonformal, informal, hingga pengalaman kerja, sehingga dapat dikonversi menjadi kredit akademik.
Rektor UMN, Dr. Andrey Andoko, mengatakan program ini ditujukan bagi masyarakat yang telah memiliki pengalaman dan kompetensi relevan, khususnya pada PJJIK dan MMT. Pengalaman tersebut dapat diakui sebagai mata kuliah tertentu, sehingga masa studi lebih singkat dan biaya lebih efisien.
“Program RPL ini kami buka untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang sudah memiliki pengalaman bekerja dan keahlian tertentu yang relevan dengan dua program studi di UMN, di antaranya PJJIK dan MMT. Pengalaman bekerja dan keahlian yang relevan nantinya bisa diakui dengan mata kuliah tertentu, sehingga bisa menyelesaikan perkuliahan lebih singkat dengan biaya yang lebih murah”, jelas Dr. Andrey Andoko, selaku Rektor UMN, Kamis, 9 April 2026.
Ia berharap program ini membuka peluang bagi para profesional untuk melanjutkan pendidikan tinggi sekaligus mendukung pengembangan karier dan menjawab tantangan dunia kerja.
BACA JUGA : UMN Resmi Luncurkan Prodi S1 Artificial Intelligence, Fokus Sustainable AI dan Kebutuhan Industri
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Internasionalisasi UMN, Prof. Dr. Friska Natalia, menambahkan RPL dirancang untuk meningkatkan partisipasi calon mahasiswa, khususnya yang memiliki pengalaman kerja atau riwayat pendidikan yang belum tuntas.
“Program RPL ini kami rancang untuk calon mahasiswa yang ingin mengikuti pembelajaran di UMN, khususnya bagi mereka yang sudah memiliki pengalaman kerja, pendidikan formal, maupun pendidikan sebelumnya yang tidak tamat. Peluang ini kami buka, sehingga memungkinkan calon mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi di UMN”, jelas Friska.
Ia menegaskan, konversi pengalaman ke SKS tetap memperhatikan kesetaraan kurikulum dan relevansi mata kuliah. Mata kuliah yang tidak sesuai tetap wajib ditempuh mahasiswa.
“Kami memastikan bahwa kurikulum dan proses pembelajaran yang diterima calon mahasiswa tetap setara dengan hasil konversi yang diberikan, serta melihat relevansinya dengan mata kuliah yang akan ditempuh. Adapun mata kuliah yang tidak memiliki relevansi tetap wajib diikuti oleh mahasiswa.”, tambahnya.
BACA JUGA : UMN Perkuat Silaturahmi dengan Media dan Perkenalkan Inovasi Pendidikan Terbaru UMN
Sementara itu, Dekan Fakultas Bisnis UMN sekaligus Direktur RPL, Dr. Prio Utomo, menyebut program ini sejalan dengan konsep pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) dan menjadi solusi formal untuk mengakui kompetensi masyarakat.
“Program ini merupakan komitmen UMN dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat, yang juga sejalan dengan UMN yang terus menekankan konsep pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learner). Lebih dari itu, kami melihat banyaknya masyarakat yang memiliki kompetensi yang kuat, sehingga diperlukan mekanisme formal untuk mengakui dan menyetarakan kompetensi tersebut secara akademik”, jelas Prio.
Ia menjelaskan, calon mahasiswa akan melalui tahapan asesmen portofolio, wawancara, hingga evaluasi kompetensi dengan sistem yang transparan dan terukur.
“Program RPL ini memiliki sedikit perbedaan dengan program reguler, mengingat durasi studi yang lebih cepat dengan waktu yang fleksibel, sehingga calon mahasiswa tidak perlu memulai studi dari awal namun menempatkan pengalaman kerja, maupun studi formal dan informal sebagai proses pembelajaran yang sah dan terukur secara akademik”, tambahnya.
Melalui program ini, UMN menargetkan hadirnya opsi pendidikan tinggi yang lebih fleksibel, inklusif, serta mampu mencetak lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan industri.









