KOTA SERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Di tengah klaim pertumbuhan investasi nasional yang menyentuh Rp1.010,6 triliun pada semester II 2026 atau tumbuh 7,2 persen, pemerintah justru mengakui satu ironi: pasokan tenaga kerja yang tersedia belum tentu sesuai dengan yang dibutuhkan industri.
Pengakuan itu disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Kick Off Pelatihan Vokasi Nasional Batch 4 di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang, Selasa, 1 September 2026.
Airlangga blak-blakan soal kesenjangan kompetensi yang masih menganga.
“Ada mismatch terkait dengan kompetensi,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Presiden mendorong percepatan vokasi agar skill gap bisa dikurangi.
Ia pun mewanti-wanti anak muda agar tak lengah. “Kalau kita tidak segera melakukan pelatihan, ini akan semakin ketinggalan,” katanya.
Gubernur Banten Andra Soni, yang menjadi tuan rumah acara tersebut, menegaskan posisi strategis pelatihan vokasi.
“Pelatihan vokasi menjadi jembatan yang mempertemukan kebutuhan dunia industri dengan potensi dan kompetensi tenaga kerja,” ungkapnya.
Ia berharap sinergi lintas pemangku kepentingan terus diperkuat agar warga Banten mendapat akses pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Untuk merespons kesenjangan itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengumumkan suntikan anggaran tambahan: Rp4,2 triliun untuk program magang dan Rp1,7 triliun untuk pelatihan vokasi.
Dana segar ini diklaim akan mendongkrak kapasitas program magang hingga 150 ribu peserta baru dan menambah kuota pelatihan vokasi untuk 270 ribu peserta lainnya. Yassierli mengajak generasi muda memanfaatkan momentum ini.
“Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, pastikan Anda lulus dengan baik,” pesannya.
Namun pertanyaannya tetap menggantung: apakah suntikan dana dan penambahan kuota peserta ini cukup untuk mengejar laju investasi yang terus melesat, atau justru kesenjangan kompetensi ini akan terus jadi PR abadi di setiap kick off program serupa tahun-tahun mendatang.







