Geliat Industri Film Tangerang Raya: Ekosistem Tumbuh, Lulusan Mulai Unjuk Gigi

Dekan Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Muhammad Cahya Mulya Daulay, S.Sn., M.Ds., saat memberikan jawaban kepada awak media di peluncuran Ucifest ke-17 di UMN.

TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Industri perfilman dan animasi di wilayah Tangerang Raya menunjukkan tren positif yang signifikan. Pertumbuhan ini tidak hanya terlihat dari sisi produksi, namun juga didukung oleh kolaborasi antara dunia pendidikan tinggi, sekolah kejuruan, dan dukungan pemerintah pusat melalui kementerian terkait.

Dekan Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Muhammad Cahya Mulya Daulay, S.Sn., M.Ds., mengungkapkan bahwa ekosistem kreatif di Tangerang kini semakin matang. Hal ini ditandai dengan hadirnya kurikulum animasi dan videografi di berbagai SMKN yang didukung langsung oleh tenaga pengajar dari perguruan tinggi.

Bacaan Lainnya

Film Bukan Sekadar Produksi

Menurut Cahya, film dan animasi kini menjadi medium ekonomi kreatif yang sangat dipupuk oleh pemerintah. Di ranah akademik, mahasiswa tidak hanya diajarkan teknik produksi, tetapi juga diberikan gambaran luas mengenai ekosistem industri yang mencakup aspek pemasaran hingga logistik.

“Film itu tidak cuma sekadar produksi. Ada marketing, katering, hingga penyewaan alat. Menariknya, banyak alumni kami di Tangerang yang sudah memiliki usaha penyewaan alat sendiri,” ujar Cahya.

Terkait preferensi publik, Cahya mencatat bahwa genre horor dan komedi tetap menjadi primadona di pasar arus utama. Namun, di lingkungan akademisi, para sineas muda lebih banyak mengeksplorasi sisi subjektivitas, isu sosial, hingga benturan tradisi dengan standar modern dalam karya-karya mereka.

Menyikapi Tantangan Artificial Intelligence (AI)

Menanggapi maraknya penggunaan Artificial Intelligence (AI) di industri kreatif, Cahya menegaskan bahwa pihaknya memandang teknologi tersebut sebagai alat (tools) pembantu, bukan ancaman yang harus dilarang.

Beberapa poin penting mengenai strategi penggunaan AI bagi sineas masa depan meliputi:

  • Strategi Pra-Produksi: AI dimanfaatkan untuk membantu visualisasi awal atau pembuatan contoh visual agar proses kerja lebih efisien.

  • Etika dan Batasan: Mahasiswa dibekali pemahaman mengenai batasan etis penggunaan teknologi regeneratif agar orisinalitas tetap terjaga.

  • Human-Centered Design: Cahya menekankan bahwa motor utama dari sebuah karya tetaplah manusia. Ide dan kreativitas dasar harus datang dari individu, bukan mesin.

  • Hands-on Production: Untuk aspek teknis seperti animasi dan pengambilan gambar, mahasiswa tetap diwajibkan melakukan praktik langsung (hands-on) menggunakan kamera dan perangkat manual untuk menjaga kualitas rasa dalam karya.

Dengan sinergi antara teknologi dan kreativitas manusia, ekosistem perfilman di Tangerang diharapkan dapat terus bersaing di kancah nasional maupun internasional.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.