JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Menemukan musik baru di era digital kini tidak hanya soal mendengarkan lagu yang direkomendasikan. Cerita, konteks, dan perjalanan seorang musisi juga dapat membuat pendengar semakin tertarik untuk mengenal sebuah karya.
Perspektif tersebut dibahas dalam sesi IdeaTalks “Curating Culture: The Human Side of Music Discovery” yang dihadirkan Spotify pada IdeaFest 2026 di JICC Senayan.
Diskusi yang dimoderatori Dimas Ario, Editorial Lead Spotify Indonesia, tersebut menghadirkan Boon Ken Wong, Head of Editorial Spotify Southeast Asia; Ferry Dermawan, Program Director Plainsong Live/Joyland; serta Mentari Novel, singer-songwriter, Founder & Director Iramanesia, dan Inisiator Bimbingan Skena.
Salah satu pembahasan dalam sesi tersebut adalah bagaimana storytelling menjadi bagian penting dalam proses kurasi musik. Melalui editorial storytelling, sebuah lagu atau artis dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas sehingga pendengar tidak hanya mengetahui apa yang sedang didengarkan, tetapi juga memahami alasan dan cerita di baliknya.
Mentari Novel mengatakan, musik memiliki banyak cerita yang tidak selalu terlihat dari sebuah lagu atau penampilan di atas panggung.
“Musik bukan hanya tentang lagu, musisi, atau performance-nya saja. Ada banyak cerita di balik industri musik yang juga menarik untuk diangkat,” ujar Mentari.
Menurutnya, cerita dari orang-orang di balik layar dapat memberikan perspektif baru bagi pendengar.
“Dengan mengetahui perspektif dan cerita dari orang-orang di balik layar, pendengar bisa lebih memahami dan menghargai proses di balik sebuah karya dan penampilan,” lanjutnya.
Konteks tersebut dinilai dapat membuat hubungan pendengar dengan musisi berkembang. Musik yang awalnya ditemukan secara kebetulan dapat berubah menjadi karya yang memiliki makna personal bagi pendengarnya.
Dalam diskusi yang sama, Boon Ken Wong menjelaskan bahwa proses kurasi Spotify memadukan pemahaman terhadap musik, budaya lokal, konteks, dan insight berbasis data.
“Selalu menakjubkan melihat pendengar melihat playlist atau rekomendasi yang kami berikan di Spotify dan berpikir ‘Wah, kok bisa pas banget rasanya’,” kata Boon.
Ia menilai personalisasi berbasis teknologi memiliki kemampuan untuk membantu pendengar menemukan musik dalam skala besar. Namun, manusia tetap memiliki peran dalam memberikan rasa dan konteks.
“Ketika teknologi dan sentuhan manusia berjalan bersama, pengalaman music discovery jadi jauh lebih bermakna. That’s where the magic happens,” ujarnya.
Pembahasan mengenai storytelling juga berkaitan dengan fitur-fitur yang membantu pendengar mengenal lebih jauh proses kreatif sebuah lagu. Salah satunya adalah Song DNA yang membuka informasi mengenai para kreator dan orang-orang yang berkontribusi dalam proses penciptaan musik.
Dengan semakin banyaknya pilihan musik, kurasi menjadi penting untuk membantu pendengar menemukan karya yang relevan. Namun, pengalaman discovery tidak berhenti ketika sebuah lagu ditemukan.
Penemuan tersebut dapat menjadi awal dari keterlibatan yang lebih panjang, mulai dari mengikuti perjalanan seorang artis, menghadiri konser, hingga membentuk fandom yang bertahan lama. (san/*) #foto dok. spotify








