Warga Ciledug Desak Normalisasi Kali Angke, Turap Rapuh dan Tanggul Jebol Tak Mampu Tahan Banjir

KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Banjir yang kembali melanda wilayah Ciledug, Kota Tangerang, membuat warga semakin khawatir dan mendesak pemerintah untuk segera menormalisasi Kali Angke. Bencana tahunan ini dinilai semakin parah, apalagi salah satu tanggul dilaporkan jebol dan turap yang ada sudah dalam kondisi rapuh.

Sebagaimana diketahui, hujan deras yang mengguyur pada Senin, 7 Juli 2025 malam, menyebabkan Kali Angke meluap. Air sungai mengalir deras dan melimpas ke pemukiman warga, khususnya di kawasan Ciledug Indah 1, yang menjadi salah satu titik terdampak paling parah.

Bacaan Lainnya

“Air kali sering meluap, dan limpasan air langsung masuk ke rumah. Turapnya juga sudah rapuh, dan kemarin tanggulnya jebol. Sudah nggak kuat nahan volume air,” kata Ridho kepada Lensa Banten pada Kamis, 10 Juli 2025, warga Ciledug 2 yang rumahnya terendam banjir.

Warga mengaku semakin waswas karena banjir kali ini datang lebih cepat dan tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banyak perabotan rumah tangga rusak, aktivitas warga lumpuh, dan sebagian anak-anak terpaksa tidak sekolah karena akses jalan terputus.

“Setiap tahun banjir, tapi kalau sampai tanggul jebol, ini sudah gawat. Pemerintah jangan cuma lihat, tapi tolong segera bertindak,” tambah Yani, warga lainnya.

Warga menilai, penyebab utama banjir adalah kondisi Kali Angke yang semakin dangkal, sempit, dan dipenuhi sampah. Ditambah lagi, infrastruktur pengendali banjir seperti tanggul dan turap kini tak lagi layak fungsi.

“Kali Angke harus segera dinormalisasi. Jangan tunggu banjir makin parah baru bergerak,” pungkasnya.

Warga berharap pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR bisa segera merealisasikan normalisasi Kali Angke, sekaligus membangun turap dan tanggul yang kokoh agar banjir tidak terus berulang.

Saat ini, kondisi air sudah mulai surut. Sebagian warga telah kembali ke rumah untuk membersihkan lumpur dan memperbaiki perabotan yang rusak, namun ada juga yang masih bertahan di pengungsian karena rumah belum bisa ditinggali.

“Kami lelah terus-terusan menghadapi banjir. Kami ingin hidup tenang tanpa harus khawatir setiap musim hujan datang,” tutup Yani.

Meski demikian, warga juga mengakui pentingnya peran bersama. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah ke kali, dan menjaga saluran air harus ditingkatkan. Karena penanganan banjir tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga butuh kepedulian kolektif dari seluruh warga.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.