KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Fenomena pengibaran bendera “Jolly Roger” dari serial manga dan anime One Piece tengah ramai terlihat di berbagai daerah Indonesia sepanjang Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan HUT Kemerdekaan ke-80 RI. Aksi ini menuai beragam tanggapan, mulai dari pemerintah pusat, tokoh politik, hingga pejabat daerah.
Awalnya, bendera berlogo tengkorak khas One Piece ini digunakan sejumlah sopir truk sebagai simbol protes terhadap kebijakan pelarangan truk over-dimension over-load (ODOL). Namun, dalam perkembangannya, penggunaan bendera tersebut meluas menjadi simbol ekspresi publik yang dinilai mencerminkan kebebasan, kritik sosial, serta perlawanan terhadap ketidakadilan.
Wakil Ketua II DPRD Kota Tangerang, Arief Wibowo, menilai fenomena ini bisa dimaknai positif selama dilakukan sesuai aturan. Ia juga menambahkan pengibaran bendera One Piece pada momentum kemerdekaan bisa menjadi pengingat bahwa perjuangan bangsa belum usai.
“Kalau tujuan adalah mengekspresikan kepedulian terhadap kondisi bangsa yang sampai hari ini masih banyak hal yang harus kita perbaiki bersama, saya menilai ini adalah bentuk kepedulian yang Insya Allah baik,” ujarnya pada Minggu, 10 Agustus 2025.
“Kita perlu terus berjuang, karena masih banyak PR yang perlu kita tuntaskan bersama-sama,” tambahnya.
Meski demikian, Arief mengingatkan agar masyarakat tetap mematuhi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Aturan tersebut, khususnya Pasal 21 ayat (1) dan (2), menegaskan bahwa bendera Merah Putih harus ditempatkan pada posisi tertinggi jika dikibarkan bersama bendera lain.
“Artinya, atribut, simbol, atau bendera lain harus diposisikan di bawah Merah Putih. Jika ketentuan ini diikuti, saya kira tidak ada kategori makar atau tindak pidana, karena sejalan dengan peraturan yang ada,” jelasnya.
Arief pun mengajak masyarakat melihat fenomena ini sebagai ruang ekspresi kreatif sekaligus bentuk kepedulian terhadap bangsa, karena sebagaimana mestinya menjadi tugas bersama.
“Buat saya, ini positif jika memang niatnya untuk menuntaskan berbagai persoalan bangsa yang masih menjadi PR kita bersama,” pungkasnya.
Fenomena ini juga memberi dampak ekonomi. Beberapa pedagang mengaku penjualan bendera One Piece melonjak tajam sejak awal Agustus. Di Jakarta, seorang penjual bahkan bisa melepas lebih dari 120 bendera hanya dalam sepekan, dengan omzet hingga Rp8 juta.
Walau memicu pro dan kontra, berbagai pihak sepakat bahwa pengibaran bendera Merah Putih tetap menjadi prioritas utama dalam peringatan kemerdekaan. Simbol atau atribut lain diperbolehkan selama tidak menyalahi aturan dan tidak menggeser kehormatan bendera negara.
Pada akhirnya, semarak bendera One Piece menjadi cermin bahwa masyarakat memiliki banyak cara untuk menyuarakan pandangan, namun semangat persatuan dan penghormatan terhadap simbol negara tetap harus diutamakan.









