SD Negeri di Kota Serang Hanya Punya 75 Murid, Dindikbud Pilih Merger Sekolah

SERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang mulai memperluas kebijakan penggabungan atau merger sekolah dasar negeri (SDN) menyusul terus menurunnya jumlah peserta didik di sejumlah sekolah, terutama di kawasan perkotaan. Penataan itu dilakukan agar proses belajar mengajar tetap berjalan efektif.

Kepala Dindikbud Kota Serang Ahmad Nuri mengatakan penurunan jumlah murid terjadi karena jumlah anak usia sekolah dasar di wilayah perkotaan tidak lagi sebanding dengan banyaknya SD negeri yang tersedia.

Bacaan Lainnya

“Masalah utamanya karena jumlah populasi usia SD di perkotaan saat ini tidak sebanding dengan banyaknya jumlah sekolah dasar yang ada,” kata Ahmad Nuri, melansir RRI.co.id, Rabu, 22 Juli 2026.

Tahap awal penataan dilakukan terhadap SDN 4, SDN 8, dan SDN 16 di kawasan Benggala. Ketiga sekolah itu berada dalam satu kawasan dan selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan jumlah murid. Pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, masing-masing sekolah hanya menerima sekitar 10 hingga 20 siswa baru.

Setelah dikelola dalam satu klaster, jumlah peserta didik dari ketiga sekolah tersebut mencapai sekitar 375 siswa yang tersebar dari kelas I hingga kelas VI.

Dindikbud juga telah memetakan sejumlah sekolah lain yang akan menjadi prioritas penataan berikutnya, yakni SDN Pamarican 1, SDN Pamarican 2, SDN Cijawa, dan SDN Penancangan.

Menurut Ahmad, kondisi paling memprihatinkan terjadi di SDN Penancangan, Kecamatan Kemang. Sekolah itu hanya memiliki 75 murid dari kelas I hingga kelas VI. Setiap rombongan belajar rata-rata hanya diisi tujuh hingga sepuluh siswa.

“Ada kondisi yang cukup miris di kawasan perkotaan. Contohnya di daerah Penancangan, Kemang, ada sekolah yang total muridnya dari kelas satu sampai kelas enam hanya 75 anak. Satu kelas paling hanya diisi 7 sampai 10 siswa,” ujarnya.

Ia menilai jumlah peserta didik yang sangat sedikit membuat proses pembelajaran kurang efektif. Kondisi tersebut juga berdampak pada pemanfaatan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang menjadi tidak optimal.

Situasi serupa terjadi di SDN Cijawa yang hanya memiliki sekitar 120 siswa, meski sekolah itu memiliki gedung dua lantai yang dinilai memadai. Ahmad mengatakan rendahnya jumlah murid di sekolah tersebut dipengaruhi akses menuju sekolah yang semakin sulit setelah pagar dan gerbang kompleks di sekitarnya ditutup.

Sementara itu, jumlah murid di SDN Pamarican 1 dan SDN Pamarican 2 jika digabungkan hanya berkisar 300 hingga 350 siswa.

Dindikbud mengidentifikasi dua faktor utama penyusutan jumlah murid di SD negeri perkotaan. Pertama, banyak sekolah negeri berdiri berdekatan dalam satu wilayah. Kedua, terjadi pergeseran pilihan masyarakat, khususnya keluarga kelas menengah, yang lebih memilih menyekolahkan anak mereka ke sekolah swasta, terutama Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT).

“Rata-rata masyarakat kelas menengah di perkotaan memilih menyekolahkan anak mereka ke swasta yang punya identitas seperti SDIT. Sementara sekolah negeri akhirnya cenderung hanya menampung anak-anak dari kalangan urban poor,” kata Ahmad.

Saat ini jumlah SD negeri di Kota Serang tercatat sebanyak 219 sekolah setelah sebelumnya berjumlah 221 sekolah. Melalui kebijakan merger, Dindikbud berharap dapat membentuk rombongan belajar yang lebih ideal, meningkatkan efektivitas pembelajaran, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan guru, fasilitas pendidikan, dan anggaran operasional sekolah.

“Sekarang ini kami fokus melakukan merger bagi sekolah-sekolah yang kekurangan murid, terutama yang lokasinya berdekatan atau satu lokus,” ujar Ahmad.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.