KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID – Kepulangan jemaah haji Kloter 1 Kota Tangerang menyisakan banyak kisah mengharukan. Salah satunya datang dari Nursiah (65), warga RT01/RW03, Kelurahan Batusari, Kecamatan Batuceper, yang akhirnya bisa menunaikan ibadah haji meski harus berangkat seorang diri setelah sang suami meninggal dunia.
Perempuan lansia itu sebenarnya mendaftar haji bersama suaminya pada tahun 2013. Setelah lebih dari satu dekade menunggu antrean, takdir berkata lain karena suaminya wafat pada 2021 sebelum sempat melihat jadwal keberangkatan mereka tiba.
“Kita niat baik, Allah berkehendak lain,” ujarnya kepada Lensa Banten saat dikonfirmasi.
Penantian Panjang Berakhir dengan Duka
Kepergian sang suami menjadi ujian berat bagi Nursiah. Saat itu, keduanya masih sama-sama menunggu panggilan untuk berangkat ke Tanah Suci setelah bertahun-tahun menyisihkan uang demi mewujudkan impian tersebut.
Nursiah masih mengingat jelas momen terakhir suaminya. Menurutnya, sang suami meninggal secara mendadak saat menghadiri sebuah acara walimatul arus.
“Habis baca rawi. Orang walimatul arus. Baca rawi, kata saya ‘Pak Nasrul, itu baca rawinya error?’ ‘Kagak, Mpok, beres,’ kata dia gitu. Terus dia mau nyendok nasi, tiba-tiba dia begitu, ngusruk. Gitu, akhirnya meninggal,” kenangnya.
Tak Ada Anak yang Menggantikan
Setelah suaminya meninggal dunia, Nursiah sempat mencari anggota keluarga yang bersedia menggantikan posisi pendamping. Namun, dari lima anak yang dimilikinya, tidak ada satu pun yang siap ikut berangkat bersama dirinya.
Meski sempat berharap ada yang menemani, ia akhirnya memilih melanjutkan perjalanan seorang diri. Baginya, kesempatan berhaji yang telah lama dinanti tidak boleh disia-siakan.
“Udah saya tanya, apa yang paling tua, yang pernah, yang mau nemenin gua nggak? Kalau nemenin nggak, nambahin doang kan? Nggak pada mau,” katanya.
Menurut Nursiah, kemungkinan anak-anaknya belum memiliki kesiapan biaya tambahan untuk mendampinginya selama menjalankan ibadah haji. Ia pun memahami kondisi tersebut dan tidak ingin memaksakan kehendak.
“Mungkin kali belum ada buat pegangan kali, belum ada bekal tambahan ya kali,” tuturnya.
Tetap Mantap Berangkat Sendiri
Meski harus berangkat tanpa suami maupun anak, Nursiah tidak pernah berpikir untuk membatalkan keberangkatan. Ia memilih menjalani semuanya dengan keyakinan dan tawakal kepada Allah SWT.
Sebelum berhaji, ia bahkan telah lebih dahulu menjalankan ibadah umrah seorang diri pada tahun 2023. Pengalaman itu membuatnya semakin yakin bisa menjalani perjalanan ke Tanah Suci tanpa pendamping.
“Ya saya umrah. Sendiri juga. Tapi alhamdulillah bisa bawa koper sendiri, tawaf sendiri saya,” ujarnya.
Mengisi Waktu dengan Ibadah
Sesampainya di Madinah, Nursiah memanfaatkan seluruh waktunya untuk memperbanyak ibadah. Ia berhasil menyelesaikan salat Arbain dan mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali selama berada di kota suci tersebut.
Baginya, kesempatan menjadi tamu Allah adalah nikmat yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Karena itu, hampir seluruh waktunya diisi dengan beribadah dan membaca Al-Qur’an.
“Sampai khatam 11 kali di Madinah, masuk Arbain dapat. Terus kemudian dari Makkah, sudah setelahnya seminggu di Makkah, terus pilek,” katanya.
Saat berada di Makkah, semangat ibadahnya tetap tidak berkurang. Ia terus melanjutkan tadarus hingga kembali mengkhatamkan Al-Qur’an beberapa kali.
“Alhamdulillah, saya kejar 40 Arbain bisa. Terus ke Makkah langsung saya tadarus. Sampai dapat tadarus sampai dapat empat kali khatam saya, alhamdulillah. Saya bersyukur di situ,” jelasnya.
Mendoakan Sang Suami dari Tanah Suci
Meskipun menjalankan ibadah seorang diri, Nursiah mengaku tidak pernah melupakan sosok suaminya. Di tengah rangkaian ibadah yang dijalaninya, ia selalu menyisipkan doa dan niat untuk almarhum.
Kerinduan terhadap pasangan hidupnya itu diwujudkan dengan menghadiahkan pahala ibadah sunah yang ia lakukan selama berada di Tanah Suci. Hal tersebut menjadi cara Nursiah untuk tetap merasa dekat dengan suaminya.
“Saya tawaf sunah, tawaf wajib, sai sunah, sai wajib. Itu yang sunah saya niatin bakal suami,” ungkapnya.
Sakit Menjelang Kepulangan
Selama menjalankan seluruh rukun haji, kondisi kesehatan Nursiah relatif baik. Ia mampu menyelesaikan tawaf wajib, sa’i wajib, hingga tawaf wada tanpa kendala berarti.
Keluhan kesehatan justru muncul saat masa kepulangan. Ketika hendak menuju pesawat, tubuhnya mulai tidak nyaman hingga mengalami muntah-muntah.
“Tadi ini berangkat kemarin pilek lagi, jadi muntah-muntah saya. Cuma waktu pas ke pesawat, mau berangkat ke pesawat itu, eh muntah,” ujarnya.
Kondisi itu kembali terjadi ketika pesawat hampir tiba di Indonesia. Meski demikian, ia tetap bersyukur karena seluruh rangkaian ibadah hajinya telah berhasil dituntaskan.
“Nah, setelahnya tinggal dua jam mendarat, muntah lagi saya. Iya, pas mau pulang,” katanya.
Pulang dengan Rasa Syukur
Bagi Nursiah, keberhasilan menyelesaikan ibadah haji merupakan karunia besar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Terlebih, seluruh proses itu berhasil dilaluinya seorang diri di usia yang tidak lagi muda.
Kini, ia hanya ingin mensyukuri semua nikmat yang diberikan Allah SWT. Mulai dari kesempatan berhaji, menyelesaikan Arbain, hingga mampu menuntaskan seluruh rangkaian ibadah tanpa kekurangan.
“Ya itu saya banyak-banyak bersyukur kepada Allah, kita bisa melaksanakan yang itu. Arbain bisa, khatam Quran bisa, salatnya bisa. Beres udah semua rapi, tawaf ifadah, tawaf wada’ bisa saya,” pungkasnya.









