KOTA TANGERANG SELATAN, LENSABANTEN.CO.ID – Gelombang protes terhadap sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 di Kota Tangerang Selatan kembali mencuat. Kali ini, warga dari RW 10 Pamulang Barat serta RW 07 dan 08 Sawah Baru menggelar aksi demonstrasi di depan tiga sekolah, yakni SMAN 6, SMAN 10, dan SMPN 4 Tangsel, pada Jumat, 4 Juli 2025.
Aksi tersebut berlangsung cukup tegas, bahkan warga menutup akses masuk ke ketiga sekolah tersebut sebagai bentuk kekecewaan karena tidak ada warga mereka yang diterima melalui jalur domisili, meskipun lokasi rumah berdekatan dengan sekolah.
“Rumah mereka hanya berjarak antara 7 hingga 100 meter dari sekolah tidak diterima. Kami sudah sampaikan ke sekolah, tapi tidak ada titik temu. Kami melakukan ini dengan keadaan terpaksa, karena warga kami yang merasa ada di sini, tidak ada yang diterima,” ujar Ketua RW 10 Pamulang Barat, Suhendar, saat ditemui di lokasi.
Suhendar menjelaskan bahwa perubahan aturan dalam jalur domisili yang kini juga mempertimbangkan nilai akademik di tingkat kecamatan baru diinformasikan kepada masyarakat pada 29 Mei 2025. Menurutnya, hal itu menyulitkan warga untuk bersiap, meskipun nilai siswa-siswi dari wilayahnya sudah tergolong tinggi.
“Kami berharap kepada pihak sekolah agar meneruskan ke pihak yang lebih tinggi lagi, agar peraturan seperti itu yang merugikan warga sekitar dirubah, agar kami diberikan kesempatan bisa bersekolah di sini dibandingkan yang jauh-jauh,” lanjutnya.
Sebagai bentuk protes, warga menutup gerbang masuk SMAN 10 Tangsel menggunakan bambu dan ban bekas. Mereka bersikeras tidak akan membongkar penghalang tersebut sebelum mendapat penjelasan langsung dari kepala sekolah.
Menanggapi aksi tersebut, Kepala SMAN 10 Tangsel, Usman, menyebutkan bahwa pihak sekolah sebelumnya telah melakukan sosialisasi terkait perubahan sistem SPMB tahun ini, namun diduga masyarakat belum memahami perbedaannya dengan tahun sebelumnya.
“Bahwa SPMB tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, takutnya mindset dari masyarakat tahun sebelumnya masih yang lama, makanya saya perlu datangkan aparat desa, minimal kalau ditanya sama warganya bisa diberikan jawaban. Kalau jawabannya belum jelas silakan ke sekolah untuk diperjelas,” tandas Usman.
Aksi warga di tiga sekolah ini menambah deretan gelombang protes terhadap SPMB 2025 di Tangsel. Sebelumnya, pada Rabu, 2 Juli 2025 warga Benda Baru juga melakukan aksi serupa di depan SMAN 3 Tangsel, menyoroti kebijakan serupa yang dinilai merugikan masyarakat sekitar sekolah.
Penolakan yang terus meluas ini mencerminkan keresahan masyarakat terhadap sistem zonasi dan seleksi berbasis nilai yang diterapkan mendadak, sehingga diperlukan evaluasi kebijakan agar penerimaan siswa benar-benar adil dan transparan bagi warga sekitar.










