Erupsi Anak Krakatau, Begini Cara Menyiapkan Evakuasi Keluarga dalam 15 Menit

Erupsi Anak Krakatau, Begini Cara Menyiapkan Evakuasi Keluarga dalam 15 Menit
Erupsi Anak Krakatau, Begini Cara Menyiapkan Evakuasi Keluarga dalam 15 Menit. foto : Ilustrasi by Pexels

PANDEGLANG, LENSABANTEN.CO.ID — Rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026, kembali mengingatkan warga di sekitar Selat Sunda akan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Gunung api yang terletak di perairan antara Banten dan Lampung Selatan itu sempat mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam, disertai suara gemuruh, dentuman, dan semburan lava (lava fountain), sebelum akhirnya mereda pada Minggu, 6 September 2026 dini hari.

Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada di Level III atau Siaga, level yang sudah ditetapkan sejak awal Juli 2026. Meski erupsi menerus telah berhenti, aktivitas kegempaan gunung tercatat masih tinggi sehingga potensi letusan susulan pada periode berikutnya dinilai masih ada.

Bacaan Lainnya

Kepala Badan Geologi Lana Saria meminta masyarakat pesisir Banten dan Lampung tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi potensi tsunami yang belum terverifikasi. Ia menjelaskan bahwa tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascalongsor dan tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 saat ini masih relatif kecil, sehingga belum berpotensi mengalami keruntuhan besar yang dapat memicu gelombang tsunami.

Radius 3 Kilometer Wajib Steril

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tetap merekomendasikan agar seluruh aktivitas warga, nelayan, operator kapal wisata, dan pendaki dihentikan dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Anak Krakatau. Larangan ini juga diperkuat oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banten yang melarang kapal mendekati kawasan tersebut selama status Siaga berlaku.

Hingga saat ini, belum ada perintah evakuasi umum bagi warga pesisir Banten dan Lampung. Namun BPBD di kedua provinsi memastikan jalur dan rambu evakuasi di kawasan pesisir sudah disiapkan sebagai bentuk kesiapsiagaan, bukan karena adanya perintah pengungsian.

Karena status gunung api bisa berubah sewaktu-waktu, BNPB menekankan tiga hal utama kepada masyarakat: memastikan tidak ada warga atau wisatawan yang berada di zona bahaya, menyiapkan jalur evakuasi dan titik kumpul sebelum dibutuhkan, serta selalu mematuhi arahan petugas dan mengikuti informasi resmi dari BMKG, Badan Geologi, BNPB, dan BPBD setempat.

Kenapa Keluarga Perlu Rencana Evakuasi 15 Menit?

Para ahli mitigasi bencana selalu menekankan bahwa masa sebelum erupsi adalah waktu terbaik untuk bersiap, bukan saat gunung sudah meletus. Sebab, radius zona bahaya bisa berbeda-beda tergantung karakter tiap gunung api, dan situasi di lapangan bisa berubah cepat begitu ada perintah dari petugas. Dengan rencana yang sudah disiapkan lebih dulu, keluarga tidak perlu berpikir panjang saat sirene atau imbauan evakuasi benar-benar berbunyi.

Berikut simulasi langkah evakuasi keluarga yang bisa dilatih agar bisa selesai dalam 15 menit, disusun berdasarkan panduan mitigasi bencana vulkanik dari BNPB dan Badan Geologi.

Menit 0–3: Cek informasi dan beri komando

  • Pastikan sumber informasi resmi (radio, aplikasi MAGMA Indonesia, akun resmi BNPB/BPBD) sebelum bergerak, agar tidak terpancing kabar yang belum terverifikasi.
  • Satu orang dewasa memimpin dan membagi tugas ke anggota keluarga lain: siapa membawa anak-anak dan lansia, siapa mengambil tas siaga, siapa mematikan listrik dan gas.

Menit 3–8: Ambil tas siaga bencana

  • Tas siaga idealnya sudah disiapkan sejak status gunung naik ke level Siaga, berisi dokumen penting, obat-obatan, masker, senter, air minum, dan makanan siap saji untuk minimal tiga hari.
  • Kenakan pakaian tertutup, sepatu, dan masker untuk melindungi diri dari hujan abu vulkanik.

Menit 8–10: Amankan rumah

  • Matikan aliran listrik dan gas untuk mencegah korsleting atau kebakaran saat rumah ditinggalkan.
  • Kunci pintu dan pastikan tidak ada anggota keluarga yang tertinggal, termasuk memeriksa kembali kamar anak-anak dan lansia.

Menit 10–13: Berkumpul di titik kumpul keluarga

  • Menuju titik kumpul yang sudah disepakati bersama keluarga, idealnya searah dengan jalur evakuasi resmi yang ditetapkan BPBD setempat, menjauhi pesisir dan menuju dataran yang lebih tinggi.
  • Hindari kawasan pantai dan pelabuhan yang berada di dalam radius bahaya.

Menit 13–15: Bergerak menuju lokasi aman

  • Ikuti rambu evakuasi dan arahan petugas di lapangan, bukan asumsi sendiri.
  • Saling mengabari kerabat melalui pesan singkat karena jaringan komunikasi bisa padat saat kondisi darurat.

Yang Perlu Disiapkan Sejak Sekarang

Agar simulasi 15 menit ini benar-benar bisa dijalankan saat dibutuhkan, BNPB menyarankan keluarga di wilayah rawan menyiapkan beberapa hal dari sekarang:

  1. Tas siaga bencana yang sudah terisi dan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau, tidak perlu dikemas mendadak.
  2. Jalur evakuasi dan titik kumpul yang sudah dikenali seluruh anggota keluarga, termasuk jalur alternatif jika jalan utama padat.
  3. Nomor kontak darurat BPBD setempat dan kerabat di luar zona bahaya sebagai titik komunikasi.
  4. Kesepakatan keluarga tentang siapa menjemput anak dari sekolah atau lansia jika evakuasi terjadi saat anggota keluarga sedang terpisah.
  5. Rutin memantau status gunung api melalui kanal resmi, karena rekomendasi radius dan status bisa berubah sesuai perkembangan aktivitas vulkanik.

BNPB dan Badan Geologi kembali mengingatkan, imbauan menjauhi radius tiga kilometer dari kawah aktif Anak Krakatau saat ini bukanlah perintah evakuasi umum bagi warga pesisir. Namun, dengan aktivitas kegempaan yang masih tinggi, kesiapan keluarga tetap menjadi kunci utama agar tidak panik jika status berubah dan evakuasi benar-benar harus dilakukan.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.