Jangan Sepelekan Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ini Gejala yang Harus Diwaspadai

Jangan Sepelekan Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ini Gejala yang Harus Diwaspadai
Jangan Sepelekan Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ini Gejala yang Harus Diwaspadai. foto : pexels

SERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang kembali meningkat sejak Jumat (4/9/2026) malam membuat abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebaran abu terbagi dalam dua klaster, salah satunya mengarah ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dengan ketinggian sebaran mencapai 20.000 kaki, sementara klaster lain menjangkau Banten, Lampung, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia di barat Bengkulu dan Lampung.

Menanggapi kondisi ini, Kementerian Kesehatan melalui situs resminya mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis diminta lebih waspada karena lebih rentan terhadap paparan abu.

Bacaan Lainnya

Bukan Debu Biasa

Para ahli mengingatkan agar abu vulkanik tidak disamakan dengan debu rumah tangga sehari-hari. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis, kurang dari 2 milimeter, sehingga mampu menembus mekanisme penyaringan alami di hidung dan masuk langsung ke saluran pernapasan bagian dalam.

Sifat abu ini diperparah oleh kandungan kimianya. Menurut Daryono, partikel abu diselimuti senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung logam berat dan mineral. Ketika terhirup atau menempel pada jaringan tubuh yang lembap, kandungan asam tersebut dapat memicu reaksi yang berujung pada peradangan saluran napas serta iritasi mata dan kulit.

Badan Geologi Amerika Serikat atau United States Geological Survey (USGS) turut menegaskan bahwa abu vulkanik bersifat keras dan abrasif sehingga mudah menimbulkan iritasi. Selain abu yang kasat mata, USGS juga menyebut aktivitas vulkanik melepaskan berbagai gas berbahaya ke atmosfer, seperti karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida, dan sejumlah hidrogen halida, dengan tingkat bahaya bergantung pada jenis dan konsentrasinya. Gas sulfur dioksida disebut paling perlu diwaspadai karena dapat mengiritasi mata, kulit, serta selaput lendir pada hidung dan tenggorokan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Dalam jangka pendek, paparan abu vulkanik dapat memicu sejumlah keluhan kesehatan, di antaranya:

  • Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk kering, hingga sesak napas, terutama pada penderita asma.
  • Iritasi dan keluarnya cairan terus-menerus dari hidung (pilek).
  • Tenggorokan kering, gatal, dan disertai batuk.
  • Kambuhnya gejala bronkitis serta sesak napas atau mengi pada penderita asma.
  • Iritasi mata akibat partikel yang tajam, yang berisiko menggores kornea.
  • Iritasi dan gatal-gatal pada kulit.

Salah satu sumber juga mengingatkan adanya risiko jangka panjang berupa silikosis, yakni peradangan paru-paru akibat paparan kristal silika yang berkepanjangan.

Pada sebagian besar orang sehat, keluhan yang muncul umumnya bersifat ringan dan sementara. Namun demikian, paparan abu berpotensi memperberat penyakit pernapasan yang sudah ada sebelumnya, khususnya asma, bronkitis kronis, dan penyakit paru lainnya. Warga diminta segera mencari pertolongan medis apabila setelah terpapar abu muncul gejala seperti sesak napas, nyeri dada, atau gangguan mata yang berat.

Waspada Juga pada Air dan Makanan

Kementerian Kesehatan turut mengingatkan bahwa dampak abu vulkanik tidak hanya menyasar saluran pernapasan, tetapi juga dapat mencemari sumber air terbuka, tempat penampungan air, serta bahan makanan yang tidak terlindungi. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) turut mencatat bahwa erupsi gunung berapi dapat memengaruhi kualitas air minum. Oleh karena itu, masyarakat diimbau menutup rapat wadah makanan dan memastikan sumber maupun tempat penyimpanan air tetap terlindungi selama masa hujan abu.

Setelah beraktivitas di luar rumah, tubuh disarankan segera dibersihkan menggunakan air bersih, dengan tetap berhati-hati karena sifat abu yang abrasif dapat melukai kulit jika dibersihkan secara kasar.

Langkah Perlindungan

Untuk mengurangi risiko paparan, warga di wilayah terdampak dianjurkan menggunakan masker respirator jenis N95 atau KN95 saat beraktivitas di luar ruangan, mengingat masker biasa dinilai kurang efektif menyaring partikel abu yang sangat halus. Warga juga diminta menghindari mengucek mata saat terkena abu karena tindakan tersebut justru dapat memperparah iritasi.

Mengingat arah dan kecepatan sebaran abu dapat berubah mengikuti pergerakan angin, wilayah yang pada suatu waktu relatif bersih belum tentu bebas dari paparan pada waktu berikutnya. Karena itu, kewaspadaan tetap perlu dijaga meski kondisi udara di suatu daerah tampak membaik.

Meski demikian, sejumlah pihak menegaskan bahwa paparan abu vulkanik memang perlu diwaspadai, namun tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan. Dengan memahami cara melindungi diri serta mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan sejak dini, risiko akibat paparan abu vulkanik dinilai dapat ditekan.

Pos terkait

Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari lensabanten.co.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.