JAKARTA, LENSABANTEN.CO.ID – Fenomena pasangan memilih hidup tanpa anak atau childfree mulai terlihat di Indonesia, meskipun angkanya masih sangat kecil.
Deputi Bidang Pengendalian Kependudukan dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, mengungkapkan bahwa ada beragam latar belakang yang melatarbelakangi keputusan hidup tanpa anak atau childfree.
Beberapa pasangan memilih untuk hidup tanpa anak atau childfree karena alasan kesehatan, terutama jika salah satu pihak mengalami masalah medis yang kompleks.
Selain itu, pengalaman traumatis di masa lalu, termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), menjadi faktor lain yang memengaruhi keputusan tersebut. Mereka khawatir, jika memiliki anak, trauma yang pernah mereka alami bisa kembali terulang pada generasi berikutnya.
Meskipun demikian, data yang dimiliki Kemendukbangga menunjukkan bahwa jumlah pasangan yang memutuskan childfree masih di bawah 0,01 persen dan mayoritas berasal dari wilayah perkotaan.
Kendati angkanya tergolong kecil, pemerintah tetap memberi perhatian serius agar fenomena ini tidak berdampak pada penurunan angka fertilitas nasional.
Saat ini, laju pertumbuhan penduduk Indonesia berada di kisaran 1,1 persen, dengan angka kelahiran total (TFR) mencapai 2,11 persen. Angka ini dianggap ideal, namun pemerataan angka kelahiran di berbagai wilayah tetap menjadi prioritas agar pertumbuhan penduduk tetap seimbang. Selain alasan pribadi, tren hidup tanpa anak ini juga dinilai turut dipengaruhi oleh perkembangan media sosial.










