Disutradarai oleh Irham Acho Bahtiar dan diproduksi oleh Heart Pictures dan Rumah Semut Films, Sahabat Anak bukan sekadar film biografi, tapi perayaan terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan Kak Seto selama puluhan tahun. Tidak hanya mengangkat kisah nyata, film ini juga memberi ruang bagi suara anak-anak melalui keterlibatan langsung lebih dari 100 anak dari berbagai wilayah Indonesia.
Film ini diadaptasi dari novel Kakak Batik, yang ditulis berdasarkan pengalaman Kak Seto saat mendampingi anak-anak pemulung di kawasan Melawai, Blok M. Sosok kakak berbaju batik yang menjadi sahabat dan pelindung anak-anak jalanan menjadi jantung cerita, menegaskan pentingnya kehadiran orang dewasa yang peduli di tengah kerentanan anak-anak.
Sang sutradara, Irham Acho Bahtiar, mengatakan bahwa film ini merupakan mimpi masa kecil yang akhirnya terwujud. Ia mengaku bahwa kehadiran Kak Seto langsung di lokasi syuting membuat seluruh proses terasa lebih hangat dan penuh makna.
Proses syuting berlangsung di lokasi yang dirancang menyerupai era 1970-an, seperti Ciawi dan Kota Tua Jakarta. Dengan alur cerita yang melompat antara masa lalu dan masa kini, Sahabat Anak mengisahkan bagaimana Kak Seto mempersiapkan reuni tokoh legendaris Si Komo—sebuah simbol ikonik masa kecil anak-anak era 90-an.
Tantangan dalam mengarahkan ratusan anak di lokasi syuting dijawab dengan pendekatan humanis khas Kak Seto. Alih-alih tegas dan kaku, pendekatan senyum dan empati justru membuat anak-anak tampil lebih alami dan nyaman. Filosofi inilah yang membuat film ini memiliki napas berbeda dari kebanyakan film anak-anak lain.
Lebih dari 10 lagu akan menjadi pengiring narasi film ini, termasuk lagu-lagu klasik karya Pak Kasur serta komposisi baru yang segar namun tetap sarat nilai edukatif. Sahabat Anak tidak hanya mempersembahkan nostalgia, tetapi juga menanamkan nilai-nilai yang relevan bagi anak-anak Indonesia masa kini. artwork dok. ig@sahabatanakfilm









