KOTA TANGERANG, LENSABANTEN.CO.ID — Nama Ibrahim Aroby mungkin tak sepopuler petinju nasional lainnya, namun kisah hidupnya menjadi inspirasi tersendiri bagi dunia tinju Indonesia. Petinju kelahiran Papua yang kini bermukim di Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, ini mencatat sejarah sebagai satu-satunya petinju Indonesia yang tampil di level internasional di Meksiko tanpa didampingi pelatih.
“Saya waktu itu baru dicoret dari tim nasional usai kalah dalam seleksi di Semarang, tahun 2001. Sempat bingung harus ke mana,” kenang Ibrahim saat ditemui di GOR Koang, Karawaci, Rabu 11 Juni 2025.
Di usia 21 tahun, Ibrahim nyaris kehilangan arah. Namun takdir membawanya pada pertemuan dengan petinju senior Heri Makawimbang yang menyarankan untuk menekuni jalur profesional. Berbekal semangat dan dukungan promotor, Ibrahim pun berangkat ke Meksiko.
“Ketika itu saya main satu kali. Saya kalah. Tapi pengalaman itu sangat berharga, karena saya benar-benar sendiri, tanpa pelatih, tanpa pendamping. Hanya bermodal tekad,” ujar pria juara kelas ringan yunior ini.
Kekalahan di Meksiko bukan akhir perjalanan Ibrahim. Justru dari situlah ia menemukan makna sesungguhnya dari kerja keras dan dedikasi dalam dunia tinju. Kini, ia menjadi pembina dan pelatih di Sasana All Out, tempat ia mendidik generasi muda petinju dari Kota Tangerang.
“Pengalaman itu saya wariskan ke anak-anak di sasana. Saya selalu bilang, berlatihlah sungguh-sungguh. Tirulah petinju hebat, belajarlah dari pengalaman mereka,” pesan Ibrahim.
Perjalanan Ibrahim Aroby bukan sekadar cerita tentang ring tinju. Ini adalah kisah tentang keteguhan, perjuangan dalam sunyi, dan keyakinan bahwa mimpi bisa tetap hidup, bahkan ketika semua terasa runtuh.










